Kamis, 23 Juni 2016

Lentera

        Hallo readers cspm! Kali ini gue bakal ngajak kalian untuk ngobrol dengan bacaan ringan aja. Bukan cerpen atau secarik puisi seperti yang biasanya, hanya tulisan tentang kenyataan yang mungkin bisa jadi renungan kita semua, nggak terkecuali gue ya yang berlumur dosa ini, anjay.. oiya, sebelumnya maaf banget kalau ditulisan ini gue pake bahasa prokem, ya maksudnya biar bisa santai sedikit. Berhubung gue juga cuma punya waktu sedikit buat nulis karena ada pekerjaan yang mepet banget, ciye elahh sok sibuk banget, hehe..
          Jadi gini, gue terinspirasi sama seorang anak kecil. Lebih tepatnya gadis kecil, cucu guru ngaji gue dulu (jaman-jaman SMP), dan sekarang temennya ade gue. Ketika gue lagi buat pesanan kue di dapur (tuh ketauan pekerjaan mepet gue, hehe) pintu rumah gue diketuk terus ada yang bilang, assalamualaikum.. Jeihan.. (nama ade gue). Alhasil, ade gue lari ke depan buat bukain pintunya. Dan dari dapur gue denger jelas banget itu bocah langsung sumringah ngeliat ade gue, aahhh Jeihann!! Terus bla bla bla.. mereka bercakap-cakap kaya temen lama yang baru ketemu lagi. Duh, kaya ABG aja ya, padahal masih umur 7 tahun.
          Singkat cerita, mama gue ngeliat keluar—ke ruang tamu buat liat siapa yang dateng. Dan, mama gue langsung nyambut gadis kecil itu dengan riang juga. Sebut saja dia Mawar, gue pake nama samaran ya guys. Entah sengaja atau enggak, ceritanya gue denger semua pembicaraan mereka yang asyik banget. Tapi ada satu hal yang membuat hati gue itu miris, mungkin bukan miris tapi kaya semacam perasaan terharu yang dicampur sama bangga atau malu sama diri sendiri.
          Flashback ke belakang, beberapa tahun yang lalu, gue masih inget banget tentang perjalanan gadis kecil itu yang selalu ada di samping bundanya. Loh, kenapa langsung ke bundanya? Waktu gue masih ngaji di rumah nenek gadis kecil itu, ada bundanya dia. Bundanya cantik banget, bukan cuma itu tapi baik hati pula. Beliau juga sosok yang tegar, kenapa gue bilang tegar? Beliau sedang melawan penyakitnya, ada penyakit yang berbahaya di dalam jaringan otaknya, gue lupa antara kanker atau tumor. Ya maklum aja ya bro sist, masih SMP belum ngerti apa-apa. Sebelah tubuhnya itu kaku, nggak bisa digerakin. Sampai bunda gadis itu nggak bisa bangun, hanya terbaring di kasur. Dan kenapa gue bilang tegar? Karena beliau nggak pernah terdengar ngeluh sakit, selalu menyiapkan senyumnya untuk orang-orang yang beliau temuin, termasuk gue. Setiap gue ngaji, bunda gadis kecil itu selalu senyum ke gue sambil bilang, eh Sasa udah besar, makin cantik ya. Gimana sekolahnya? Dengan susah payah beliau berbicara buat nyapa, iya gue seakan-akan merasakan susahnya.
          Waktu mama gue jenguk bunda gadis kecil yang manis itu, keadaannya makin parah. Udah nggak bisa ngomong lagi. Guru ngaji gue pun cuma bilang gini ke mama, neng, minta doanya aja ya buat anak ibu sama biar anak-anaknya juga diberi ketegaran lahir batin. Gue nggak kuat denger guru ngaji gue bilang kaya gitu. Alhasil, gue keluar kamarnya dan sedikit ngusap mata gue karena ada linangan air mata yang mau netes. Mama gue pun nangis di dalam kamar. Waktu bunda gadis kecil itu masih bisa berbicara jelas, beliau sempat titip pesan ke mama buat ngajarin anaknya yang ke-2, berhubung mama gue itu guru les bimbingan belajar di rumah. Makanya kalau anak keduanya itu belum dateng buat les di rumah, mama sampai telpon atau samperin ke rumahnya buat nyuruh anak keduanya itu belajar. Dia sih enggak bandel, walaupun anak laki-laki. Entahlah memang udah takdir Tuhan kasih hati anak-anak itu kaya malaikat. Maksud gue ya nggak bandel, terus mau jagain bundanya, nggak rewel dan semacamnya. Oiya, mereka itu selalu riang, apalagi si bungsu—gadis kecil itu.
          Nah, waktu tadi siang dia ke rumah gue—gadis kecil itu, gue nanya ke dia, puasa nggak nih? Terus dia jawab, puasa dong! Semagrib, aku belum bolong loh puasanya. Dia jawab dengan tatapan yang meyakinkan dan senyum yang manis banget, asli ya gue aja jam segitu, siang-siang bolong gitu udah ngerasa laper dan kering banget tenggorokan, tapi dia masih semangat aja. Malu sob! Gue nanya lagi, emang kuat? Terus dia jawab, kuat lah! Aku kan puasa buat bunda, biar bunda seneng liat aku. Sumpah, merinding gue dengerin omongan gadis kecil itu. Kalau ada kata yang melebihi kata salut, gue kasih buat itu bocah. Ohiya guys, gue belum bilang ya, kalau bundanya itu udah meninggal beberpa tahun lalu, setelah berjuang melawan rasa sakitnya demi ketiga anaknya, akhirnya Tuhan lebih menyayangi beliau dengan mengistirahatkannya. Jujur aja sih, waktu denger berita duka citanya gue ngerasa lemes, tubuh gue kaya mau jatuh, nggak tahu kenapa padahal enggak ada hubungan darah apa pun. Gue berdoa semoga bunda gadis kecil itu meninggal dengan husnul khotimah, aamiin.
          Setelah gadis kecil itu pulang ke rumah neneknya, alias guru ngaji gue. Langsung aja gue nanya ke mama, mah, dia ceria banget ya? Terus mama gue bilang, emang dia tuh ceria terus, main sama temen-temennya, nggak ada keliatan sedih. Tegar banget tuh dia. Kalau posisinya dituker, gue jadi dia, gue nggak bisa bayangin deh, dan nggak tahu bisa setegar dia juga apa enggak. Sebenernya gue juga masih kebayang sosok kakek gue yang baru aja meninggal beberapa bulan lalu, dan itu pertama kali gue pingsan dan jantung gue terasa sakit banget. Apa lagi kalau mama sendiri?
          Dari kisah yang sangat singkat ini, gue cuma bisa bercermin pada diri sendiri, membenarkan apa yang masih salah dalam hidup gue apa lagi untuk orang-orang di sekeliling gue, terutama mama dan papa. Gue selalu berpikir bahwa apa yang gue kerjain sekarang adalah semata-mata hanya untuk orang-orang yang sayang sama gue, yang selalu ada buat support gue, dan buat orang tua gue yang sabar banget ngerawat gue dari kecil sampai sekarang. Jangan pernah benci sama mereka, meskipun seburuk apa pun mereka karena mau gimana pun juga lu dan gue bisa ada karena mereka. Jangan sia-siain, selagi mereka ada karena ketika mereka udah enggak ada, lu nggak bakal bisa minta doa yang langsung dikabulkan Tuhan. Kalau lu lagi ada masalah, mau lari kemana? Ujung-ujungnya pasti orang tua. Dan gue yakin, lu belajar tentang kehidupan pasti dari orang tua, maupun mereka mengajarkan lu secara langsung ataupun enggak.
          Kenapa gue judulin tulisan yang sangat sederhana ini dengan judul Lentera karena gadis kecil itu ibarat lentera bagi bundanya yang sudah tertidur dengan kegelapan, dia puasa dan berbuat baik, juga selalu ceria dimana pun dia berada, itu semua buat bunda. Dan kalian pasti tahu, bahwa doa yang diterima untuk orang-orang yang sudah tiada adalah doa-doa dari anak yang sholeh dan sholehah.

          Bro, sist, di dunia ini engga ada orang yang sempurna. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa. Terkadang menggunakan nafsunya untuk melampiaskan hasratnya, entah itu dendam atau apapun. Tapi enggak ada salahnya kan kalau belajar untuk lebih baik lagi? Toh itu semua bukan untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri. Kadang, gue juga ngerasa down di saat-saat tertentu tapi Tuhan begitu baik sama gue, kenapa? Dia selalu ngasih gue teguran yang halus, yang bisa buat gue bilang ohiya, contohnya dengan kisah yang tadi, gue lebih ngerasa bangkit lagi dari sebelumnya. Seengganya udah ada niat buat menjadi lebih baik. You are not alone, there Allah in your heart. 

Senin, 13 Juni 2016

Kupu-Kupu

Ada banyak hal yang memang harus dipikirkan. Semakin bertambah usia itu tandanya semakin banyak masalah yang akan datang, pergi dan silih-berganti. Begitulah aku yang selalu merindukan malam sebagai tempat mengadu saat orang-orang merajut mimpi. Ah, mimpi! Hanya ulasan bunga tidur yang indah tapi tak pernah jadi nyata. Untuk apa? Aku tak terbiasa untuk tidur sesore ini—pukul dua dini hari. Menghabiskan waktu di kamar dengan puluhan komik-komik terjadul sampai modern. Aku tak terlalu ambil pusing dengan urusan dunia, sudah cukup semrawut di masa lalu, jika masa sekarang tetap sama saja, itu urusan mereka bukan urusanku.

“Sudah Mas bilang, berhenti bekerja! Mana boleh seorang isteri keluyuran malam-malam?!”

“Aku juga bekerja demi keluarga, Mas. De..”

“Bantah aja terus apa kata suami!”

Embun-embun pagi yang masih sejuk di pucuk dedaunan pun satu persatu gugur. Seperti berlari mendengar kegaduhan yang mengusik pendengaran mereka. Sepagi ini, seharusnya ada sarapan yang manis menunggu di meja makan. Bahkan keluar kamar pun aku sungguh tak berselera. Untuk yang pertama kalinya aku diam. Mungkin bertengkar adalah hal yang menyenangkan untuk mereka.

Kuambil handuk lalu pergi ke kamar mandi. Sambil kudengar kata demi kata sahut-menyahut membentuk gelombang kebencian dalam dada. Mungkin tertulis dendam di sana. Sunnguh, aku tak peduli—belajar untuk tidak peduli.

Keluar dari kamar mandi, aku melihat Ibu terduduk di meja makan, tangannya mengepal menahan amarah, wajahnya sayu dengan make-up yang mulai menipis. Aku tak menegurnya, rasanya tak ingin. Lidahku kelu, mulutku tak ingin lagi berkomentar apa pun, sudahlah. Aku bergegas merapikan pakaianku dan pergi ke kampus. Sebuta ini, pukul setengah enam. Aku tak peduli yang penting akmelupakan, secepatnya.

Tak ada sarapan di meja makan, bukan karena tak ada makanan, tapi tak ada selera. Terpaksa aku mengambil tempat bekal dengan berisikan dua helai roti juga selainya. Dengan sesekali melirik Ibu tanpa bersuara. Wajahnya masih tertunduk, sambil terkadang isakan dari hidungnya terdengar pelan.

“Bu, aku pamit ke kampus.”

Kepala Ibu terangkat, menampakkan kedua mata yang agak merah, “berangkat sama Ibu aja, sekalian berangkat ke kantor.”

“Aku naik sepeda aja, bu. Ibu hati-hati di jalan.”

Udara pagi dengan kebebasan sejenak dapat kurasakan penuh kedamaian, setidaknya guncangan tadi subuh dapat kukeluarkan perlahan-lahan. Aku ingin melupakan semua kepedihan. Kukayuh pedal sepeda, anggap saja tenagaku adalah bentuk emosi yang kutekan untuk dihilangkan.

Sampai di kampus. Perjalananku tidak lama, hanya setengah jam dari rumah. Disambut oleh tukang sapu, seorang bapak tua dengan seragam orange itu serius menyatukan dedauanan yang berserakan dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Aku berteduh di bawah pohon rindang sambil memperhatikan ia. Dalam benakku tersirat, apa dia menikmati hidupnya? Aku yakin gajinya sangat pas-pasan untuk semua anggota keluarganya. Tapi mengapa seperti tak ada keluh? Atau ia hanya pandai menyembunyikan?

Bapak tukang sapu itu berhenti sejenak. Ia rehat lalu membuka bungkusan nasi. Aku menghampirinya, duduk di sebelahnya, “Pak, boleh sarapan bareng kan?”

Bapak itu tertawa mendengar ucapanku barusan, “Kamu ada urusan apa toh ndok dengan bapak? Ada tugas kuliah yang harus mewawancarai tukang sapu? Sampai-sampai rela tidak makan di rumah bersama keluargamu.”

Aku tak menggubris pertanyaan bapak itu. Seakan tak mendengar apa pun karena kalau dilanjutkan, hanya akan ada luka yang muncul ke permukaan. Aku sarapan bersamanya, kulihat ia makan dengan lahap, aku tersenyum. Rotiku habis begitu pun nasi bungkus bapak tua itu.

“Hidup itu takdir yang menentukan. Kita ndak bisa memilih mau ditakdirkan seperti apa, yang jelas kalau kita sedang tertimpa masalah itu tandanya gusti Allah tahu bahwa kita bisa menghadapi masalah itu. Anggap saja itu tugas yang harus kita selesaikan dengan baik. Iya toh ndok?” jelas bapak tukang sapu itu di akhiri dengan senyum tiga jarinya.

Sehabis sarapan, kami berbicang dari obrolan ringan hingga politik di Negara ini. kadang tertawa oleh guyonan Bapak tua itu. Jangan kan tawanya, senyumnya pun terlihat lucu karena gigi bagian depannya sudah tumbang termakan usia. Bapak tua itu dengan mudah mengajariku bagaimana caranya bahagia dengan murah—sederhana.

“Di dunia ini semua hal dengan mudah bisa ditukar dengan uang, ndok. Tapi ada satu yang sangat mahal, sampai-sampai dollar pun tak dapat menukarnya, yaitu tertawa.”

Teman-temanku berdatangan satu persatu. Yang tak mengenalku, mereka melewati kami dengan muka aneh. Mungkin karena aku terlalu dekat dengan Bapak tukang sapu ini.

“Bella!” seorang wanita memanggilku dari kejauhan. Di sampingnya ada seorang pria. Mereka teman-teman sekelasku. Aku melambaikan tangan kepada mereka. Berpamitan kepada bapak itu dan berlari menuju Adel dan Dio.

Kami bertiga duduk di taman sebelum kelas dimulai. Dio memainkan gitarnya yang selalu ia bawa kemana-mana. Sambil mendengarkan pembicaraanku kepada Bella tentang beberapa pria yang sedang mendekatiku belakangan ini.

“Bel, ada yang nanyain kamu lagi tuh. Ya ampun Bella kenapa sih enggak ada yang kamu terima aja? Jomblo terus enggak bosen?” ledek Adel.

“Haha.. kalau kamu mau ya ambil aja Del. Aku cuma anggap mereka sebagai teman biasa.”

“Aduh batu banget nih orang. Nanti lama-lama kamu kaya si Dio tuh yang enggak bisa move on dari pacarnya yang dulu.”

“Jomblo aja milih-milih sih, hahaha.” Tiba-tiba Dio angkat suara. Wajahku menggeram, kalau aku mau pacaran juga enggak akan jomblo sampai sekarang, Dio!

“Dio asal kamu tahu ya si Bella tuh malah ngajak main get rich semua laki-laki yang suka sama dia. Aduh beneran gila tuh orang.”

“Hahaha, biar nanti reuni akbar, Del.” Aku tertawa kencang karena ucapan Adel. Dio pun ikut tertawa kecil sambil tak lepas dari permainan gitarnya.

Pembicaraan kami mulai mengirit karena kehabisan topik. Hari ini aku tak banyak meladeni ledekan Dio ataupun Adel. Kelas dimulai, dalam bayanganku di depan papan tulis hanyalah wajah ketegangan di antara Ibu dan Ayah. Meski kata Ibu, tak usah dipikirkan, tapi apa bisa? Tentu saja tidak!

Hanya ada satu mata kuliah di hari ini, Rasanya waktu begitu cepat berlalu, aku masih tak ingin pulang ke rumah—aku benci suasananya. Adel sudah dijemput Ayahnya, mereka ingin makan siang bersama. Tersisa Dio di sampingku. Dia menatapku sesekali, terheran dengan wajahku yang tak riang seperti biasanya.

“Tadi ngobrol apa aja sama Pak Naryo?” Dio membuka pembicaraan.

“Pak Naryo siapa?” tanyaku heran.

“Bapak tukang sapu itu, namanya Pak Naryo. Kamu bukannya asyik banget ngobrol sama dia tadi? Namanya aja enggak tahu.”

“Hehe.. mana aku tahu. Udah ah, kamu kepo. Aku nggak suka sama orang kepo.”

Aku pergi meninggalkan Dio seorang diri, ke tempat parkiran sepeda. Dia mengikutiku dari belakang. Dia juga pengguna sepeda sama sepertiku.

“Ikut aku yuk! Kita main timezone, aku yang bayarin.” Ajak Dio.

Dengan cepat aku menganggukkan kepala. Kami mengayuh sepeda dengan satu jalan. Aku di depan dan Dio mengikutiku dari belakang—menjagaku. Sesekali ia menyusul ke arah sayap kanan, menjahili sepedaku, menendangnya dengan pelan lalu saat keseimbanganku sedikit hilang, dia tertawa. Aku membalasnya tapi tak selincah Dio mengerjaiku. Yang kulakukan hanya bisa teriak memanggil namanya di jalanan, tak peduli orang-orang sekitar memperhatikan kami, mungkin hanya aku.

Sesampainya di mall, kami langsung bermain timezone. Dio membersihkan otakku dari kesedihan tadi pagi. Waktu yang telah berjalan membuatku tersenyum. Kami bermain sepuasnya, seperti anak kecil. Namun itulah yang terjadi, aku menyukai keadaan ini. aku terjebak oleh rantai senyumnya, Dio.

“Pulang yuk, aku antar sampai rumah. Maaf ya cuma bisa ngajak kamu main sebentar, aku harus kerja nanti malam.”

Aku tersenyum kepadanya. Dio memang pekerja keras. Dia sebatang kara di Ibu Kota ini. Dia bekerja sambilan untuk membiayai kuliahnya sendiri dan keperluan lainnya yang dibutuhkan. Aku jalan duluan di depannya. Dio tersenyum di belakangku sambil sesekali mengusap kepala belakangnya.

Malam lagi. Ini dia momen paling kutunggu, bersama seorang laki-laki yang menjagaku dalam gelap. Bahkan bintang pun mengiringi langkah kami. Sabitnya bulan bukan lagi rahasia, melainkan senyumnya memancar ke seluruh dunia, pertanda bahwa dewi cinta sedang bersiap untuk melambungkan anak panahnya.

Kami berjalan mendorong sepeda, beriringan menerobos dingin. Namun lagi-lagi tawa yang menghangatkan tubuh menggigil ini. lalu kita sempat terjebak suasana, kikuk mulai merajalela, kami terapit oleh kata. Ah, ia malu untuk diutarakan.

***
TRANG!

Suara gaduh apa lagi yang terdengar dari luar pagar? Haruskah tak kunjung selesai? Apa api itu terlalu besar untuk dipadamkan? Ya Tuhan, maafkan aku karena kali ini aku tak mampu menahan emosi. Air mataku mengalir dari pelupuk mata. Kedua tanganku mengepal sangat keras. Aku marah pada angin yang terlalu kuat membekukan hati mereka. Aku kecewa terhadap hujan yang tak mampu memdamkan amarah mereka. Aku sangat marah terhadap diriku sendiri yang begitu pengecut karena rasa lelahku!

“Dio, kamu pulang sekarang aja ya. Maaf aku nggak ngajak kamu masuk ke rumah. Makasih untuk hari ini.” suaraku parau, mengatakan tanpa melihat ke arahnya sedikit pun.

“Bel, tapi kamu yakin? Aku temani kamu sampai ke dalam rumah ya.” Dio menyenderkan sepedanya, menggenggam tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumah.

Aku menahannya, aku menggenggam tangannya erat melebihi dirinya. Aku mengatur napas untuk berbicara kepadanya, “Dio, temani aku dalam tangisku, aku mohon.”

Kami berdua duduk di pendopo rumahku. Aku menangis tersedu-sedu, melegakan semua beban yang sudah lama terpendam. Dio hanya memperhatikanku lekat-lekat. Aku tak kunjung mengeluarkan omongan. Aku hanya butuh teman untuk menangis.

Tiba-tiba Dio bersandar, dia tersenyum kepadaku. Lalu ia tertawa kecil. Aku terheran, wajahku menoleh kepadanya, isak tangisku perlahan terhenti, “kenapa kamu malah tertawa?”

“Aku bahagia aja bisa nemenin kamu nangis. Kamu adalah orang yang susah banget buat cerita sama aku, tapi sekarang kamu nangis di depan aku. Itu tandanya kamu nyaman.” Ujar Dio.

Dahiku mengerenyit.

“Kamu tahu enggak Bel, kupu-kupu, ia bisa terlihat indah itu butuh proses. Dari ulat yang ditakutkan banyak orang sampai seekor kupu-kupu yang sangat cantik dan di kejar banyak orang. Berproses karena waktu. Begitu juga dengan kita, berproses dengan waktu. Mungkin Tuhan mentakdirkan hari ini untuk memberanikan diriku menemani tangismu, memoles luka yang tak pernah sembuh. Begitu juga sama hidup kamu Bel, kamu hanya perlu bersabar untuk berproses menjadi kupu-kupu yang indah.”

“Bel, ada aku. Jangan pernah berpikir kalau kamu sendiri. Aku akan jaga kamu untuk menjadi kupu-kupu yang sangat istimewa. Jangan nangis lagi ya.”

Sejak saat itu, dia berhasil membawaku jatuh lebih dalam saat menatap kedua matanya. Sabit pun muncul kembali—bibirku—senyumku.

“Bel, aku mau bilang sesuatu.”

“Apa?”


“Muka kamu merah padam.”

Sabtu, 11 Juni 2016

Ada Hujan di Pelupuk

Malam kusambut sendu
Tik tik tik
Dingin menetes di antara lesung pipit
Lagi lagi kantuk tak kunjung datang
Kupeluk erat kaki yang mengepal
Dingin, semua rasa tak lagi ada
Sampai rusuk-rusuk sembilu nyeri
Meradang hingga hati
Hangat mengapa kau pergi?
Sampai emosi memuncah hingga membentuk wadah
Ada hujan di pelupuk mata

Ada hidup atau mati
Kau pilih mana?
Merana dalam dunia atau tak bernyawa sekalian
Biar pecut benar-benar terjadi dalam dosa
daripada kau harus terluka atas dirimu yang pengecut
Bulan pun terbelah, enggan ia membentuk bundar
Runtuh satu persatu bintang
Atau kemana harus aku berlari?
Kalau air mata adalah emosi, aku tahan
Sampai,
Ada hujan di pelupuk mata

Menggigil seluruh tubuh,
Ah! Aku tak peduli
Oleh berisik beling-beling yang berserakan
Kain yang tergantung sobek
Aku ingin kembali pulang
Pulang kemana? Ke rumah macam apa?
Tuan, bisakah kita duduk di antara senyuman?
Wahai ratu, dapatkan ketegangan direndahkan?

Ada hujan di pelupuk mata

Minggu, 29 Mei 2016

Purnama

Sepagi ini, dingin sudah menusuk tulang rusuk, menyelinap di antara yang lain, menetap dan merayap menjulur ke seluruh tubuh. Bahkan matahari tak ingin muncul ke hadapan, ia tidak suka dengan wajah yang masam. Semua berantakan, hancur, bukan saja penampilan tapi hati, mungkin hidup. Aku tertampar oleh keadaan, yang paling menakutkan adalah merasa sepi dalam keramaian.

Aku terdampar di pelataran kelas. Petakan ubin yang tersusun rapi, lalu lalang beribu pasang kaki, angin yang begitu lembut membelai helaian rambut yang terurai. Entahlah, bahkan kicauan burung pun tak mampu menghibur lara hati atau pohon yang menari-nari tak dapat menghibur diri. Keputusasaan telah menepi.

Ah, aku tak pernah seputusasa ini! Suara yang terdesak itu terus mengiang di telinga. Cukup! Biarkan aku bebas bersama duniaku. Ya Tuhan, selama ini aku sudah banyak mengalah, aku ingin pergi tapi rantai ini sungguh mengikat.

“Sendirian aja Mas, ngeliatin apa sih?” Wanita ini, tiba-tiba datang tanpa diundang. Seakan tahu bahwa duka sedang memelukku. Wanita ini, yang cantiknya tak dibisa dilihat dengan hanya mata telanjang.

“Ngeliatin daun yang gerak-gerak kena angin.”

“Kenapa sedih gitu sih mukanya? Cerita dong.. biasanya aku yang sering cerita, sekarang gantian.”

Aku hanya menoleh ke arahnya, menunjukkan wajah tanpa ekspresi. “Oops! Yaudah nggak usah dijawab. Kita main tebak-tebakan aja ya.” Nona, dia sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk menanggapi semua kelakuanku, tanpa harus kuberitahu.

“Coba tebak, bintang, bintang apa yang nggak ada di langit?” tebakan pertama darinya sambil tersenyum lebar.

“Bintang jatuh.” Jawabku singkat.

“Salah. Jawabannya bintang iklan, bintang film, hahahaha.. payah nih kamu, Vin.” Dan, wanita ini juga yang selalu menunjukkan candanya. Berusaha menghibur meskipun sebenarnya tidak terlalu lucu tapi itulah yang membuatku tertawa—ketidaklucuannya.

Nona duduk di sampingku, dia ikut terdiam. Sesekali mencuri pandang, aku tak membalas tatapannya tapi aku tahu dia menatapku—khawatir. Maafkan aku Nona, aku diam seribu bahasa, bukan aku tak menganggapmu ada tapi hanya saja aku sedang terbelenggu oleh kepenatan rumah, maafkan aku.

“Vin, aku baru ingat, ada pertunjukkan band kampus di aula. Kita nonton aja yuk? Dari pada di sini.” Ajak Nona.

Aku belum berkata iya tapi Nona sudah menarik tanganku dan kami berlari kecil menuju aula kampus. Duduk di tengah-tengah penonton yang mulai ramai. Band kampus kami memang sudah terkenal dan telah menjuarai beberapa kompetisi antar-mahasiswa. Nona dan aku sangat senang dengan musik. Terkadang, kami menonton konser sampai tengah malam.

Untuk hari ini, pertama kalinya aku benar-benar tidak fokus untuk menonton band kampus, aku sibuk melihat wajah Nona yang kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama lagu. Seketika aku tersadar dari mimpi buruk di pagi hari tadi, ada keteduhan di wajah Nona, ya, aku merasakannya. Bibirku mulai tersenyum melihat kesederhanaannya.

Konser telah usai. Satu persatu para penonton meninggalkan kursinya. Namun aku dan Nona masih duduk di tempat yang sama. Nona masih sibuk menceritakan perasaannya saat menikmati lagu demi lagu yang dibawakan tadi.

“Nona, could you stop talking?”

“Yups, sorry.”

“Never mind, Nona. Aku hanya ingin bercerita kepadamu, apa kamu mau mendengarkannya?”

Nona menganggukkan kepalanya. Membenarkan posisi duduknya yang menghadap langsung ke arahku. Matanya yang cokelat sedang berbinar, menunggu ceritaku. “Kamu masih ingat tentang keluargaku, kan? Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan mengambil tawaran dari tanteku untuk kuliah di Jerman. Aku ingin keluar dari rumah, Nona. Aku ingin pergi tapi aku janji, aku akan kembali setelah sukses nanti.”

Nona tersenyum melihatku. Tangannya seketika menyentuh wajahku, mengusapnya lembut, dan ini pertama kali aku merasakan hangatnya. Aku raih jemarinya, kuturunkan dari wajah, aku menggenggam tangannya, erat. “Alvin, apa pun yang terbaik buat kamu, pergilah. Aku percaya kamu akan menjadi seorang yang sukses dengan jalanmu. Aku di sini dengan doaku yang tak pernah putus untukmu.”

“Kenapa kamu selalu ada buat aku? Kamu kaya matahari yang selalu bisa buat aku melalui hari. Meskipun aku sendiri lelah dengan semua kehidupanku. Kalau aku selalu memakai topeng setiap bertemu orang lain, tapi sama kamu, aku bisa apa adanya. Bahkan kamu nggak pernah nyerah buat aku tersenyum lagi.’

“Vin, kenapa kamu baru menyadari itu sekarang? Aku selalu bersinar tapi kamu yang selalu mencari awan sebagai tempat berlindung dari cahayaku. Lalu, aku memutuskan untuk menjadi bayanganmu, yang tak pernah marah meski saat kau injak tapi sebenarnya tetap mengikuti kemana pun jejak langkahmu.”

“Semua ini butuh waktu, Nona. Dan mungkin hari ini adalah saatnya.”

“Waktu hanya bisa membawa ragamu, tapi tidak dengan jiwamu. Jangan memaksa untuk mencintaiku. Kamu tahu purnama? Ia bisa bersinar karena ada langit yang gelap. Aku ingin menjadi langit malammu, agar sinarmu bisa terlihat pesonanya. Itu jawabanku, sederhana.”

Selalu kata-katamu yang membuatku tenang. Maafkan aku yang terlalu angkuh atas rasa yang sebenarnya ada. Aku terlalu takut untuk mengungkapkan.

“Nona, aku punya tebak-tebakkan. Bintang, bintang apa yang nggak ada di langit?”

“Bintang iklan, bintang film.”

Aku menoleh ke arah Nona, menggelengkan kepala, “kamu.”.


Purnama, kau bersedia menjadi malam agar aku bersinar. Seperti katamu, di balik kesuksesan seorang pria pasti ada wanita yang hebat di belakangnya—Nona. 

Sabtu, 21 Mei 2016

Purnama

Aku adalah cahaya matahari
yang menemanimu melalui hari
Waktu, katamu
Jangan memaksa, kataku
Bila saja kau masih mencari awan
untuk menutup sinarku
Jangan memaksa, kataku
Kau tahu bayangan?
Ia tak marah saat kau injak
tetap mengikuti kemana pun jejak langkahmu
Meski hilang,
ia tetap ada
dalam dirimu
Malam,
Bila kau tak suka panas
biarkan aku menjadi ia
Aku persilahkan kau menjadi purnama
didambakan semua orang
diabadikan dan dibekukan oleh lensa
Aku adalah malam
langit hitam,
namun dapat membuatmu terlihat istimewa
Sebab, bulan butuh tempat gelap untuk ia bersinar

Minggu, 15 Mei 2016

Kau adalah romansa






















Kalau kau cari tempat yang sunyi, aku adalah hutan yang luas dengan banyak pohon yang dapat kau sandarkan
Kalau kau cari tempat untuk menangis, aku adalah lautan yang selalu menerima hujan tanpa perlu dibalas
Kalau kau tersesat, carilah aku sebagai kompas penunjuk arahmu
Kalau kau ingin bercerita, aku adalah buku dengan lembaran yang bersih untuk kau tulis
Kalau kau butuh tempat pulang, aku adalah semesta yang ramah untuk kau berlindung

Kau adalah romansa dalam sebuah cerita

Derai cemara yang kau tunggu dari lalunya senja, tak kan kembali meski waktu berbaik hati
Hujan akan mengikis kenangan yang kokoh, menyisakan nyanyian
Kau butuh rumah untuk berlindung dari badainya hati yang keras melawan dirimu sendiri
Kau butuh atap
Aku bukan tempat persinggahan

Kau adalah romansa dalam sebuah cerita

Terbang melayang, mengajakmu menikmati dunia
Tawa menggema di antara kita berdua
Itu aku
adalah awan di atas kepalamu
Kalau kau berpeluh, awanku lebih panas
Itu aku

Kau adalah romansa dalam sebuah cerita

Senin, 18 April 2016

Kenapa?

I will answer a lot of questions from my teachers, my friends, my sister, and my brothers about “Why?”, “What?”, “How”, “When?”, etc. I think they are so curious about made of my story, hehe.. Well, these are questions and  my answers.

Pertanyaan pertama ini adalah yang sering ditanyakan, dari mulai guru-guru saya di sekolah sampai adek-adek gemez. Sebenarnya siapa yang sudah memberimu inspirasi untuk menulis terutama tentang ‘cinta’? Mungkin orang yang bersamamu saat ini adalah orang yang beruntung karena selalu diberi kata-kata romantis, hehe..
Ø  Ketika ada orang (siapa pun itu) yang bertanya seperti ini, sebenarnya saya juga bingung untuk menjawab, kadang hanya dijawab dengan senyuman tiga jari. Kalau berbicara tentang cinta, buat saya semua hal dari saat mata saya terbuka sampai menutup lagi berarti saya sudah banyak merasakan tentang cinta. Misalnya, kasih sayang orang tua yang saya dapatkan, ketika saya berjalan dan melihat para dermawan memberi makan anak jalanan, atau sepasang suami-isteri yang sangat menjaga satu sama lain. Mungkin untuk yang lebih spesifik tentang ranah pribadi saya, apakah ada seorang pria yang spesial sehingga tulisan saya selalu berwarna tentang indahnya cinta? Semua orang pasti pernah merasakan apa itu cinta, apa lagi saat umur beranjak lebih dari 17 tahun, saya pun seperti itu. Ketika saya sedang menulis berarti saya sedang mersakan jatuh cinta. Lalu, setiap tulisan yang kamu buat setiap hari tandanya kamu sedang jatuh cinta setiap hari juga? Iya, saya selalu jatuh cinta setiap hari dengan keadaan. Saya jatuh cinta ketika melihat nenek dan kakek (almarhum) saya begitu sabar menjalani hari tuanya, meskipun kakek sudah tidak bisa berdiri dengan gagah selayaknya puluhan tahun lalu tapi nenek tetap setia mengurusi suaminya itu, menyuapi makan, mengajak berbicara, mengusap wajahnya saat peluh mengalir, dan sebagainya. Saya selalu jatuh cinta terhadap situasi jalanan yang mengajarkan saya apa itu arti bersyukur kepada Tuhan. Saya selalu jatuh cinta saat hujan turun atau malam memberi dingin yang menusuk jantung. Kemudian, bagaimana dengan kata-kata yang romantis? Saya adalah seorang yang memiliki khayalan tinggi, lalu saat menulis saya mengandalkan hal itu. Saya mencoba untuk menjadi seseorang, merasakan sebuah kisah yang diserap dari hati kemudian saya bayangkan betapa indahnya jika sepasang kekasih melakukan hal yang demikian (sebuah perhatian sederhana, pelukan hangat dalam sebuah do’a, bersenandung dalam melodi yang sama, saling menjaga). Mungkin saya ingin memberitahu bahwa sebenarnya cinta itu sederhana, tentang penantian yang tidak dipaksakan, tentang menurunkan ego masing-masing sehingga tidak ada pertengkaran, bukan tentang bunga yang dikirim setiap hari tapi tentang seberapa besar pengorbananmu untuk bertemu saat rindu itu muncul ke permukaan, tentang kesetiaan yang dibalut kejujuran, tentang apa adanya dirimu dan pasanganmu sehingga saling menemukan kekurangan dan kelebihan lalu saling melengkapi, tentang mempercayai sebuah kata ‘semangat’ yang sebenarnya sangat berharga, tentang sebuah kesabaran yang dibalut kasih sayang, sampai tentang sebuah ke-ikhlasan untuk melepas (bukan berjodoh atau karena dipanggil Tuhan), dan tentang memperjuangkan satu sama lain (bukan hanya kamu yang berlari dan terjatuh). Intinya, saya hanya ingin pembaca saya tahu bahwa True Love is beautiful.

Kenapa kamu suka menulis? Sejak kapan? Lalu kenapa kamu tidak memiliki buku sendiri? Misalnya mencoba untuk membuat sebuah novel atau cerita nyata dari sebuah kehidupan.
Ø  Sejak saya berada di bangku Sekolah Dasar, saya sudah suka dengan puisi, saya selalu mengisi acara di Hari Kemerdekaan Indonesia. Meskipun hanya panggung kecil Rt atau Rw. Mama saya yang mengenalkan tentang apa itu puisi. Lalu, saya pernah diikutsertakan dalam perlombaan puisi antar kelas tapi sayangnya saya tidak juara karena sebenarnya saya seorang yang demam panggung dan mudah down saat lawan saya tampil lebih bagus dibanding saya. Kemudian, saya mencoba untuk membuat puisi sendiri, walaupun masih dengan kata-kata yang sederhana (ya maklum saya masih SD, hehe..). Tema puisi saya tidak jauh tentang guru, Ibu, dan Ayah. Puisi yang pertama kali saya baca adalah karya Chairil Anwar dan Beliau lah yang telah memberi saya inspirasi untuk tetap menulis. Beliau mati muda tapi namanya tidak pernah mati, Beliau tetap hidup dengan karyanya yang tidak pernah usang dimakan jaman.
Ø  Saat saya berada di bangku Madrasah Aliyah, saya bertemu dengan seorang pria (teman satu kelas 10) dia telah membangkitkan gairah menulis saya up lagi. Diusut-usut, ternyata dia juga senang menulis fiksi, tulisannya sangat menyentuh hati, gaya bahasanya yang menjadi ciri khas. Kemudian saat gairah menulis saya naik, saya mencoba untuk membuat sebuah novel, seiring berjalannya waktu terciptalah kurang lebih 150 lembar dari kertas ukuran A4. Hanya bermodalkan nekat dan semangat untuk membelikan kado spesial untuk Ayah (kebetulan bertepatan dengan bulan ulang tahun Ayah) akhirnya saya kirim naskah novel itu ke salah satu penerbit yang ada di Jogja. Tidak lama menunggu, hanya 2 minggu, penerbit itu menghubungi saya di jam pulang sekolah saat saya sedang berada di kantin bersama teman-teman. Saya sangat senang karena telepon itu asalnya dari penerbit tapi bukan rezeki namanya, mereka meminta maaf karena hasil tulisan saya belum layak dijual. Saya mencoba untuk tegar namun apa daya pada saat itu saya hanyalah anak baru remaja yang masih rapuh walau tertiup angin kecil—air mata itu tak dapat terbendung. 2 orang teman saya berusaha untuk menenangkan dan memeluk saya dari belakang. Hati saya berbisik, maaf Pap belum bisa ngasih kado dari uang sendiri. Semenjak saat itu saya mencoba untuk menulis sebuah novel kembali namun entah apa hati saya belum mau membuat itu. Sampai akhirnya, saya lebih senang membuat sebuah cerpen atau secarik puisi. Tidak masalah, hitung-hitung belajar untuk mengolah kata dan memperbanyak kosa kata yang lebih indah.

Kenapa untuk kuliah kamu memilih untuk mengambil Bahasa Inggris? Kenapa tidak Sastra Indonesia?
Ø  Mengambil jurusan Sastra Indonesia adalah cita-cita saya sejak saya berada di Madrasah Aliyah. Saya sangat yakin bahwa saya akan sangat menikmati kuliah saya nantinya jika memilih jurusan itu. Kembali lagi pada ridho orang tua adalah ridho Tuhan, apa pun kata mereka berarti itu insya allah baik untuk saya ke depannya. Awalnya saya berontak namun semakin saya berfikir bahwa mungkin mengambil jurusan Bahasa Inggris itu lebih baik untuk saya. Toh, saya masih bisa menulis dan bisa memperlajari sendiri dari teman-teman saya yang memiliki hobi sama atau mengambil jurusan Sastra Indonesia. Hal baiknya, saya harus yakin agar tulisan saya bisa sampai ke luar negeri dengan mengambil jurusan Bahasa Inggris. Ya, kadang apa yang kamu fikirkan itu baik belum tentu baik kata Tuhan tapi jika Tuhan sudah mengatakan itu baik untukmu, maka jalanilah apa yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya, bersyukur dengan apa yang telah kamu miliki, dan tetaplah tersenyum oleh takdir, maka takdir akan menuntunmu ke arah yang benar, insya allah.

Kapan biasanya kamu menulis? Apa kamu punya waktu-waktu khusus?
Ø  Buat saya setiap detik adalah waktu yang tepat untuk menulis. Sebenarnya ada waktu khusus, seperti nama blog saya ‘Coretan si Pemuja Malam’ jadi saya lebih suka menulis di malam hari dalam keheningan. Maka dari itu, kata orang semakin malam semakin bapper atau semakin malam berarti semakin galau, buat kamu yang suka galau  jangan tidur larut ya, hehe.. Saya pernah menulis di bus menuju Cikampek, dari perjalanan yang hampir 4 jam itu, saya bisa membuat satu cerpen yang diketik di handphone atau pada saat di kereta ketika mata saya centil untuk melihat keadaan di luar gerbong, mungkin sebuah atau 2 buah puisi. Jadi, setiap detik adalah waktu yang tepat untuk menulis.

Katanya, tulisan yang kita buat itu adalah cerminan dari pribadi kita? Padahal awalnya saya sempat enggak percaya kalau kamu yang punya blog Coretan si Pemuja Malam ini, soalnya gaya berpakaian kamu yang ternyata hanya menjadi tipuan mata. OMG!
Ø  Untuk pertanyaan yang satu ini dari teman saya, respon pertama saya adalah tertawa puas, hahahahaha.. Iya, penampilan saya memang tidak sefeminin wanita-wanita di luar sana. Saya lebih senang berpenampilan sederhana dan apa adanya, sekalipun saya sedang jatuh hati kepada seorang pria. Tulisan yang kita buat memang bisa jadi cerminan dari dalam diri sendiri, mungkin lebih ke gaya bahasa apa yang kita pakai. Kadang ada tulisan yang sebenarnya romantis tapi terlihat kaku atau lebih mendayu-dayu dan terlihat lebih tulus. Ya sebagai pelajaran saja, bahwa jangan menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja karena kenyamanan dan keistimewaan itu datangnya dari dalam hati, don’t judge people who you don’t know because its not fair. Bukan hanya tulisan tapi apa yang kita baca dan dengarkan itu juga termasuk dari cerminan diri seseorang. Jadi, peka lah terhadap dirimu sendiri dan orang lain.

Kenapa kamu lebih memilih menulis? Apa alasannya untuk saat ini? Padahal banyak hobi yang bisa kamu kerjakan, apa lagi yang saya tahu kamu adalah orang yang bisa dibilang kreatif untuk mengerjakan sesuatu.
Ø  Aamiin.. oke pertama saya tidak bisa berolahraga dengan baik (saya tidak suka karena itu bisa membuat saya merasa sangat lelah, hehe..). Kemudian, saya bisa masak bahkan katanya masakan saya enak apa lagi untuk kue dan roti tapi sayangnya saya tidak hobi memasak, hehe.. Yang ketiga, untuk melakukan kerjaan animasi di komputer, saya adalah tipe orang yang mudah frustasi jika terlalu lama tidak bisa mengerjakan dan tidak ada yang membantu saya akan merasa sangat  sedih dan membuat kepala saya sakit, wkwk, oops! Yang keempat, saya suka musik, sempat bisa memainkan gitar di jaman SMP tapi sayangnya itu tidak berjalan lama karena saya hanya bisa melatih permainan gitar di luar rumah, sedangkan saya juga jarang berada di luar rumah kecuali sekolah. Maka dari itu saya lebih memilih untuk menulis. Haha.. kurang puas dengan jawabannya? Oke lebih lanjut. Seperti yang saya katakan di jawaban sebelumnya tentang Chairil Anwar, Beliau mati muda tapi karyanya tetap hidup sampai sekarang. Dari situ saya berfikir bahwa sesuatu hal yang bernyawa cepat atau lambat akan kembali pada Sang Pencipta. Kita enggak tahu kapan kita akan kembali pada-Nya. Buat saya, kematian itu berarti akhir dari segalanya (meskipun nanti ada kehidupan baru) karena saya tidak akan bisa lagi menemani untuk menghibur teman-teman atau semua orang yang ada di sekeliling saya yang sedang bersedih, jadi biarlah tulisan saya yang menjadi pengobat lara. Seniman, biarkan kami mati tapi bukan karya kami. Itu salah satu kalimat dalam cerpen saya yang berjudul ‘SKETSA’. Kemudian, banyak kata yang tidak bisa diucapkan oleh lisan, terasa sangat sulit dan kikuk untuk mengutarakan, maka menulislah sehingga beban dalam hatimu hilang, katakan walau dalam kata yang tersirat sehingga seseorang itu sadar bahwa dia ada di dalam hatimu.

Apa aku bisa nulis kaya kamu? Kata-kata aku terlalu biasa aja kayanya. Kalau aku baca tulisan kamu itu seperti aku lagi terjun ke dalam sebuah kisah itu. Apa kamu punya tips?
Ø  Aamiin.. semua orang bisa menulis kok, asal mau memulai dan terus belajar. Jangan malas untuk membaca karya orang lain dan karya favorit kamu. Saya juga masih belajar, masih dapat kritikan dari pembaca cspm, kalau saya sudah mahir mungkin nama saya sudah terkenal di toko buku se-Indonesia, hehe.. Tips dari saya, menulislah dari hatimu, kamu menulis karena kamu mencintai tulisanmu, rasakan dengan tulus setiap perasaan yang sedang kamu rasakan setaip sedang berhadapan dengan kertas dan pena. Jangan berhenti untuk menulis karena itu bisa membuat tulisanmu kaku kembali. Terus pelajari alurnya sehingga kamu bisa memainkan ceritamu seperti ombak di tengah lautan. Buat outline kalau kamu suka berantakan dalam mengambil keputusan ‘akan dibawa kemana cerita ini?’ Terus semangat untuk meminta kritikan dan masukan dari pembaca cerita kamu. Jangan menulis karena uang, toh, kalau tulisanmu sudah menjadi favorit setiap pembaca maka dengan sendirinya hal itu akan menjadi daya tarik jual. So, let it flow.


Ok guys! Saya sudah menjawab dari pertanyaan-pertanyaan di atas ya. Mohon maaf karena hanya beberapa pertanyaan yang bisa saya post karena sebagian dari pertayaan kalian bit more privacy of me. Saya sangat menghargai keingin-tahuan kalian yang selalu menyemangati dan menjadi pembaca setia dari blog Coretan si Pemuja Malam. Terimakasih untuk segalanya, karena kalian adalah alasan mengapa saya tetap menulis. Semoga jawaban saya dapat berkenan di hati kalian semua. Saya selalu menunggu kritik dan saran apa pun untuk membuat tulisan saya semakin lebih baik. Jangan bosan untuk membaca blog cspm ya dan follow instagramnya @cspm_you @ersabest . See you!