Sabtu, 16 April 2016

Aku Hanya Tukang Tinta (Cerpen)

Bukan penulis namanya jika belum menceritakan tentangmu. Bukan penulis namanya jika belum berkhayal tentangmu. Bukan penulis namanya jika belum menuliskan pesonamu. Bukan penulis namanya jika belum berpuisi keistimewaanmu.

Waktu sangat cepat meninggalkan bayang, saat semua begitu terasa kutinggalkan tetap aku harus mengalah—semua akan berpisah meninggalkan kenangan yang tidak akan usang oleh debu sekalipun. Beribu masalah yang kita hadapi bersama kini harus difikirkan sendiri—semua akan berakhir.

Empat tahun bukan waktu yang singkat untuk aku bertahan berdiri di hadapanmu, dengan gagah penuh senyum. Atau memendam kepalsuan karena kamu begitu istimewa untuk diceritakan. Kau selalu bertanya, siapa yang begitu beruntung untuk kamu deskripsikan lewat rasa yang tersirat dalam sebuah puisi? Bahkan kamu begitu buta dengan pertanyaanmu.

Aku selalu mengalihkan pertanyaanmu itu dengan candaan sederhana, sehingga kamu lupa dengan tawamu. Aku bahagia bisa membuatmu tertawa. Dan sampai saat ini aku adalah buku harianmu—mengisahkan sosok bidadari yang entah dimana ia berada namun telah membuatmu jatuh hati berkali-kali. Inilah aku, malaikatmu yang selalu dicari. Inilah aku, pundak milikmu untuk bersandar. Inilah aku, sebenar-benar rumahmu—bukan untuk membuat hatimu pilu tapi membuat hatimu tenang. Inilah aku, wanita yang takkan pernah menjadi cantik oleh make-up.

“Diana, kenapa kamu suka banget bikin puisi tentang pria itu? Bahkan aku belum tahu siapa dia.” Topik pembicaraan yang dibuka Tono.

“Hmm.. kenapa ya? Hehe.. Dia itu sangat istimewa, aku juga nggak tahu cinta buta apa yang lagi aku rasain sekarang. Orang kaya dia sayang kalau nggak dijadiin materi puisi yang romantis. Aku nggak akan membiarkan dia hanya menjadi serpihan kata yang berserakan. Dan aku selalu berharap setiap puisi yang aku tulis bisa membuat dia tersenyum dan bangun dari tundukan kepalanya. Ya anggap saja aku lagi merayu dia. Sebenarnya, kamu tahu orang itu siapa, dekat banget sama kamu, Ton.”

“Dekat banget? Berapa jengkal? Atau berapa millimeter? Hahaha.”

Kami yang sedang duduk berdua di lorong kelas yang lumayan besar, menatap laptop yang memandangi tugas skripsi. Sudah hampir empat tahun dan kami sudah berjanji untuk lulus dengan tepat waktu. Setelah itu, kami akan melanjutkan hidup masing-masing—aku harap kita bersama.

Aku beranjak dari duduk, membenarkan tulang-tulang punggung yang hampir bengkok akibat terlalu lama menunduk ke arah laptop. Sedikit meregangkan badan, menarik tangan ke atas. Sedangkan Tono masih asyik dengan ketikan jemarinya yang beradu pada keyboard. Aku keluar sebentar untuk membeli makanan ringan.

Bukan penulis namanya jika aku hanya membiarkanmu memiliki hitam kelabu, padahal aku tahu warna dalam hatimu begitu indah mengalahkan cakrawala di ujung petang.

Rasakan semua belaian jemari yang tak halus karena selalu berkutik dengan pena. Rasakan semua tatap harapam yang mengalir dalam sanubarimu. Rasakan semua setiap nada sumbang yang kulantunkan untuk menyentuh hatimu.

“Tono, udah dulu ngerjainnya. Makan dulu nih.”

“Ok Diana! Oh iya, kamu mau bantuin aku nggak?” tanyanya. Aku mengangguk singkat sambil membuka makanan yang baru saja kubeli. “Gantiin perban tangan aku ya? Susah kalau sendiri, aku bawa obatnya juga kok.”

“Oh yang kemarin lusa keserempet mobil itu ya? Sini aku bantuin.”

Luka di tangan Tono memang tidak terlalu besar tapi cukup serius. Tono bersandar pada dinding yang mulai terasa dingin akibat AC. Aku mencoba untuk membuka perbannya perlahan-lahan, dibersihkan dengan alcohol lalu kubiarkan kering terlebih dahulu, setelah itu kutetesi obat merah di area luka dan sekitarnya. Kubalut lagi dengan perban yang baru, dirapikan agar tidak terlihat kumal.

“Selesai!” suaraku sedikit berteriak dan mengangkat kepala menatap Tono namun ia sudah terlelap dalam tidurnya, mungkin saat kubuka perbannya, dia cukup lelah dengan skripsinya. “Hmm! Makanya hati-hati kalau nyebrang jalan, Tono. Tidur yang nyenyak ya, nanti aku bangunin kalau hari sudah sore.” Aku berbicara sendiri di depan Tono sambil kuusap tangannya yang luka dibalut perban, pelan-pelan.

“Tataplah diriku disini masih seperti yang dulu.. satu yang tak bisa lepas percayalah hanya kau yang mampu mencuri hatiku, aku pun tak mengerti..” (Andien – Satu yang Tak Bisa Lepas) aku bersenandung lirih sambil kembali pada laptopku.

Laguku berhenti sejenak menatap Tono yang tiba-tiba bangun dari tidurnya dan melanjutkan lagu yang sama, sambil tersenyum kecil menatapku. “..Satu yang tak bisa lepas bawalah kembali jiwa yang luka dan perasaan yang lemah ini menyentuh sendiriku.”

Aku tahu hanya lagu kita yang sama. Apa kabar dia yang selalu kamu ceritakan? Ah, aku selalu menunggu cerita-cerita baru yang ingin kau sampaikan—tentang dirinya. Atau mungkin kau sudah tidak selera untuk menceritakannya? Apa mungkin kau sudah tak selera untuk mengingatnya? Jawabannya ada pada dirimu.

Lalu rasakanlah setiap tangan ini menjagamu dalam diam. Perjalananmu adalah teka-teki kosong yang sekedar harap lalu hilang. aku tak ingin memilikimu, maka biarkanlah kamu yang memiliki. Naïf, aku hanya tersenyum untukmu. Meski aku hampir tenggelam di tengah lautan. Bukan penulis namanya jika tidak bisa menyimpan dalam kepalsuan mata. Penulis amatiran ini hanya sanggup memeluk bayangmu.

Semua fikiran dan tatap mata terfokus pada tulisan yang ada di layar kaca. Sesekali bertanya singkat tentang kalimat yang tak dimengerti. Dahaga yang haus membuat tangan meraba teh hangat dan secangkir kopi hitam—sesekali bertukar minuman.

Tiba-tiba ­e-mail masuk dari kedua laptop kami yang terhubung langsung pada wifi kampus. Tidak langsung membuka tapi kami malah saling mengangkat kepala dan kemudian bertatap satu sama lain, seakan mengatakan hal yang sama, kita dapat e-mail yang sama? Kami tertawa kecil mengingat tingkah konyol apa yang sedang kami peragakan.

“Eh, teman lama kita yang dulu pindah universitas itu ngirim surat undangan nih!” kataku terkejut.

“Iya Diana, aku sudah tahu, aku juga dapat undangannya.”

“Diundang mulu, kapan ngundangnya ya? Jodoh aja belum ada..” kataku bercanda.

“Kan ada aku.” jawab datar, Tono.

Eh.. aku memandang heran kepada Tono. Dia hanya membalas senyum tiga jari yang memperlihatkan gigi-gigi rapinya itu dilanjut mengangkat kedua alisnya yang lumayan tebal. Ah, Tono, lagi-lagi kau menyebalkan dengan kata-katamu. Aku tahu kamu hanya bergurau.

Kau adalah matahari yang dinanti saat hujan tak kunjung reda. Kau adalah pelangi yang ditunggu saat aku berlamun di batas senja. Kemudian hilang—selalu kutunggu. Bukan penulis namanya jika belum menuliskan tentangmu.

Hari sudah mulai menua. Kami merapikan laptop dan membereskan sampah yang berserakan sehabis makan dan minum. Berjalan dengan langkah yang hampir sama melewati beberapa tanaman yang tertanam di pot-pot besar. Keluar dari lorong dingin itu.

Sesekali menyapa teman-teman yang masih juga mengerjakan tugas-tugas mereka atau hanya sekedar berbincang kecil mempererat sebuah persahabatan. Sedangkan kami mulai membelah sore di bawah guratan jingga.

“Kamu bakal kerja habis lulus dari sini?” tanyaku.

“Iya, aku sudah membuat rencana itu dari empat tahun yang lalu. Bahkan perusahaan yang akan kusambangi sudah aku list. Ya semoga nilai akhir kita bagus. Kamu?”

Ton, apa aku ada dalam rencanamu? Meski bukan kau buat dari empat tahun lalu. “Aku belum tahu, Ton. Mungkin aku akan melanjutkan S2 dulu. Lagi pula aku sudah menjadi penyiar radio dua tahun terakhir ini, kan. Juga mengisi beberapa majalah dengan tulisanku. Kalau aku akan pergi jauh gimana, Ton?”

“Kamu bebas milih jalan yang kamu mau. Kalau itu baik untukmu, aku akan mendukung. Aku disini ada, sebagai teman dekatmu, lebih dari seorang sahabat. Lagi pula kamu mau kemana?”

Aku memang tak pernah ada dalam rencana indahmu itu. “Aku ingin pergi jauh, melayang ke langit biru lalu tinggal di atas awan. Nanti aku bisa lihat kamu dari atas, aku bisa menjagamu dari jauh.” Jawabku sambil menatap jalan tanpa terlihat bayang.

“Ngaco aja kalau ngomong.”
***

Beberapa bulan telah kita lewati. Kini saatnya semua cerita baru akan segera dimulai. Entah akan dianggap bahagia atau malah sebaliknya. Dini hari tadi kau memberiku kejutan lewat pesan singkat, Diana! Kau harus tahu bahwa wanita yang selama ini aku ceritakan padamu akan datang pada pesta wisuda kita hari ini. Dia memberiku kejutan yang indah. Nanti akan kukenalkan padamu.

Pagi ini aku tahu matahari begitu indah menyapa, membangunkan tidurku yang terlalu lelap, ternyata aku senang untuk bermimpi karena sepertinya aku tak ingin bangun dulu—kalau aku tahu kau akan memberiku pesan singkat itu.

Jika bidadarimu akan memberikan kejutan dengan datang ke pesta wisuda kita nanti, aku pun akan memberimu kejutan yang mungkin menurtmu sangat indah. Tunggu aku, Ton. Tunggu kejutan dariku untukmu, semoga kau bahagia karena kejutan ini akan membuatmu lebih leluasa menjalani hari bersama bidadarimu yang sejak lama kau nanti itu.

Aku datang dengan setelan kebaya berwarna cokelat dan jilbab yang dibentuk pantas di wajahku. Sengaja tak kutempelkan make-up yang terlalu tebal karena aku ingin terlihat lebih sederhana dengan apa adanya diriku. Seperti saat pertama aku menginjakkan kaki di kampus ini, bahkan aku tak memakai bedak waktu itu.

Aku mengatur nafas untuk bertemu denganmu. Sambil menenteng tas kecil yang sepadan dengan setelan kebaya cokelatku. Sedikit merapikan diri. Tubuhku sedikit gemetar oleh cuaca dingin dalam hati yang mulai membeku atau menggumpal penuh kepedihan, sudahlah aku mencoba untuk tetap tenang.

“Hi, Diana!” salah satu temanku mengejutkan dari belakang, aku hampir terjatuh dibuatnya.

“Hi, Gabriel! Jangan membuat aku terkejut, please..” kataku lirih.

“Sorry, hehe.. OMG, Diana! You are so beautiful today. Apa kamu mau aku antar ke dalam? Give your hand..” Gabriel menjulurkan tangannya padaku.

“Thank you Gabriel but I can not, sorry. Don’t angry with me.” Aku menolak ajakan Gabriel, menyatukan kedua telapak tanganku dan mengangkatnya, lalu aku tersenyum pada Gabriel.

“Ok I understand, never mind, Diana. Have fun!”

Rasakanlah saat desah suaraku menggema di telingamu. Rasakan sentuhan itu yang tak pernah kutujukan kepada siapa pun, kau juga tahu. Rasakanlah saat doaku begitu romantic mengalahkan pelukan wanita lain yang sesaat untukmu.

Aku berjalan ke dalam ruangan yang sudah penuh dekorasi kebebasan. Tepat pada tatap lurus mataku, kau ada di dapan sana membelakangi tubuhku. Bidadari itu sudah ada di sampingmu, tangannya melingkar di pinggangmu—kau pun begitu. Seketika langkahku terhenti tepat di balik punggungmu. Ini sudah saatnya aku pergi. Aku hanya tukang tinta yang bisa melukiskan pesonamu saja atau memeluk bayangmu pun aku tak kuasa.

Kau berbalik arah dan terkejut melilhatku yang sudah ada di belakangmu. Bidadari itu, iya dia sangat cantik dengan rambut yang tergerai panjang begitu pun hiasan di kepalanya. Gaun yang panjangnya hampir selutut dengan warna yang sama dengan setelan kebayaku tapi sedikit lebih muda. Dia memang cantik seperti bidadari. Kau tak salah pilih, Ton.

“Wow! Diana? Cantik banget.” Puji Tono. Aku hanya tersenyum, lebih tepatnya sudah tak sanggup untuk mengeluarkan kata apa pun. “Oh iya, ini kenalkan namanya Gadis.”

“Hallo Gadis, aku Diana.” Kami berdua bersalaman.

“Diana? Kamu lagi sakit?” tiba-tiba Gadis menembakku dengan pertanyaan yang tidak ingin aku dengar.

Tanganku memang sedari tadi berubah menjadi dingin, mungkin saat ini wajahku sudah mulai memucat. “Engga kok, memang seperti ini. Tidak usah khawatir. Kamu cantik, Gadis.” Jawabku dengan suara yang mulai parau, kemudian kututup dengan senyum.

“Tono, bisa kita bicara sebentar?” tanyaku.

Gadis membiarkan Tono pergi denganku ke sebrang dari penglihatannya.

Aku memberikan amplop berwarna cokelat yang masih rapi tersegel. Tono merasa bingung, aku pun harap-harap cemas. “Ton, aku mau kamu bacain ini buat aku.”

Tono membuka suratnya pelan-pelan, sesekali menatap eskpresi wajahku. “Kepada yang terhormat, saudari Diana Wibisana. Selamat anda lolos untuk tes beasiswa University of Japan. Kebarangkatan anda pada tanggal 24 Agustus tahun ini. Semua yang dibuthkan sudah terlampir pada amplop ini. Tanggal 24? Berarti itu lusa? Kenapa kamu nggak bilang dari awal, Na?”

Aku tak bisa berkata apapun, air mataku mengalir deras sampai jatuh ke lantai—tanpa bersuara. Sesekali memejamkan mata. Tono menatapku tajam dengan wajah yang sangat terkejut.

Aku membuka suara, “Aku fikir kamu akan senang dengan kepergianku ini, Ton. Kamu sudah bertemu dengan bidadarimu kali ini. Yang dari dulu kamu tunggu, yang dari dulu kamu ceritakan padaku. Aku kira aku adalah rumahmu, aku adalah tempatmu kembali ketika kejenuhan itu datang menghampirimu, aku yang membuatmu tenang setiap kali kau merasa kacau saat terbayang sosoknya. Tapi kamu selalu bilang bahwa dialah rumahmu, hatiku selalu berontak, rumah apa maksudmu? Rumah untuk menuju kegalauan lagi? Rumah untuk mencari kesedihanmu? Namun waktu telah menjawab semuanya pada hari ini, iya Ton, rumahmu adalah dia. Wanita yang sedang memberimu kejutan di akhir. Seperti rencanamu, ada dia untuk menjadi masa depanmu. Dan aku akan menjawab pertanyaanmu, seseorang pada puisiku adalah kamu, Tono Haryanto. Selamat atas kelulusanmu. Aku hanya memiliki doa untukmu, mungkin takkan pernah memelukmu dengan nyata. Semoga kamu merasakan bisik permohonanku pada sepertiga malam. Good bye, teman dekat.”


Rasakanlah saat doaku begitu romantic mengalahkan pelukan wanita lain yang sesaat untukmu. Aku hanya tukang tinta yang takkan pernah menampakkan cahaya, sampai nanti kau sendiri yang menemukannya. Aku hanya tukang tinta yang senantiasa menjaga dalam lelap tidurmu—di balik punggung. Aku hanya tukang tinta yang selalu tersenyum untumu. Aku pergi tanpa bisa pergi. 

Jumat, 01 April 2016

Aku Hanya Tukang Tinta

Bukan penulis namanya jika belum menceritakan tentangmu
Bukan penulis namanya jika belum berkhayal tentangmu
Bukan penulis namanya jika belum menuliskan pesonamu
Bukan penulis namanya jika belum berpuisi keistimewaanmu
Bukan penulis namanya jika aku hanya membiarkanmu menjadi serpihan kata yang berserakan, padahal aku tahu kau istimewa--berbeda
Bukan penulis namanya jika aku membiarkanmu hanya menunduk tanpa rayuan
Bukan penulis namanya jika aku hanya membiarkanmu memiliki hitam kelabu, padahal aku tahu warna dalam hatimu begitu indah mengalahkan cakrawala di ujung petang
Rasakan semua belaian jemari yang tak halus karena selalu berkutik dengan pena
Rasakan semua tatap harapan yang mengalir dalam sanubarimu
Rasakan semua setiap nada sumbang yang kulantunkan untuk menyentuh hatimu
Rasakan semua saat gelap datang membuat atap kebekuan tubuh
Saat secangkir kopi yang kita seruput bersama, lalu begitu terasa nikmat
Atau sebuah tengah malam yang klasik dengan secangkir teh hangat di warung kopi
Kemudian saat kita bersenandung lagu yang sama dengan arti yang berbeda
Aku untukmu, kamu untuk seseorang yang jauh di sana
Entahlah, aku hanya menuliskan
Bukan penulis namanya jika tidak melukiskan lewat pena
Rasakanlah saat desah suaraku menggema di telingamu
Rasakan sentuhan itu yang tak pernah kutujukan kepada siapa pun, kau juga tahu
Rasakanlah saat doaku begitu romantis mengalahkan pelukan wanita lain yang sesaat untukmu
Perjalanmu adalah teka-teki kosong yang sekedar harap lalu hilang
Aku tak ingin memilikimu, maka biarkanlah kamu yang memiliki
Naif, aku hanya dapat tersenyum untukmu
Meski aku hampir tenggelam di tengah lautan
Bukan penulis namanya jika tidak bisa menyimpan dalam kepalsuan mata
Biarkan penulis amatiran ini pergi tanpa pergi
Penulis amatiran ini hanya sanggup memeluk bayangmu
Hanya dapat mengatakan rindu dalam sepertiga malam
Penulis amatiran ini hanya dapat berbisik sendu saat melihat wajahmu kecewa
Penulis amatiran ini hanya menyimpan bahagianya saat kau datang meski tanpa sapa
Lalu rasakanlah setiap tangan ini menjagamu dalam diam
Kau adalah matahari yang dinanti saat hujan tak kunjung reda
Kau adalah pelangi yang ditunggu saat aku berlamun di batas senja
Kemudian hilang--selalu kutunggu
Bukan penulis namanya jika belum menuliskan tentangmu
Rasakanlah saat doaku begitu romantis mengalahkan pelukan wanita lain yang sesaat untukmu
Aku hanya tukang tinta yang takkan pernah menampakkan cahaya
Sampai nanti kau sendiri yang menemukannya
Aku hanya tukang tinta yang senantiasa menjaga dalam lelap tidurmu--di balik punggung
Aku hanya tukang tinta yang selalu tersenyum untukmu
Aku pergi tanpa bisa pergi

Rabu, 09 Maret 2016

SKETSA

Menjadi seniman adalah jalan yang aku pilih. Meski orang tuaku awalnya tak pernah menyetujui, mungkin sampai saat ini. Aku sedang melakukan kesalahan, sepertinya. Aku seakan tak peduli oleh larangan-larangan itu, aku mencintainya-hobiku. Sampai pada suatu hari aku memiliki galeri kecil-kecilan dari uang saku bulanan yang diberi Ayah dan hasil menjual beberapa lukisan karyaku. Aku tak pernah menyalahkan mereka karena sebenarnya ada peran mereka dalam pembukaan galeri milikku-uang saku.

Aku mencintai jemari-jemari ini yang tak lelahnya mengayun di atas permukaan kanvas yang awalnya tidak istimewa. Aku memang belum pandai membuat gradasi warna seperti pelangi yang indah, tapi aku bisa melukis sketsa wajah orang-orang yang pernah kulihat dengan secepat mungkin dan hampir mirip aslinya. Aku juga pandai melukis sketsa wajahmu, iya kamu.

Namun aku tak pandai melukis hatimu. Dapatkah kau mengajarkan aku? Wahai pujangga yang selalu mengacaukan pandangan mata. Pujangga yang selalu bisa mengelokkan kata-kata.

Hujan terus menemani perjalanan kakiku, sesekali membasahi kerudungku yang menjulur ke bawah. Sepatu boots model terbaru yang kukenankan terus berjalan tanpa henti mengikuti jalan raya yang kadang berliku dan lurus. Aku cukup mengikuti alurnya sampai terasa lelah baru kuberhenti. Saat jenuh, ini yang harus kulakukan, mengadu pada jalanan.

Sampai pada sebuah kedai kopi yang terkenal nikmat di kota ini. Kebetulan hujan dan tubuhku sudah menggigil kedinginan. Aku masuk ke kedai kopi itu, pelayannya ramah dengan mengenakan pakaian rapi ala pelayan Belanda.

“Silahkan mbak mau pesan apa?” tanya pelayan ramah itu.

“Saya mau pesan secangkir kopi hitam, jangan terlalu encer, gulanya 2 sendok saja ya.”

“Oke, seperti biasa kan?”

Aku mengangguk sambil tersenyum. Rupanya pelayan itu sudah hapal pesanan kesukaanku.

Ada sekitar dua puluh lima lukisan yang di pajang di kedai kopi ini dan tiga diantaranya adalah milikku-karyaku, dilengkapi tanda tanganku. Rupanya lukisan-lukisanku masih di pajang di tempat yang sama. Aku melukis tiga buah sketsa wajah, yang pertama adalah Ayahku, selanjutnya Ibuku, yang ketiga seseorang dalam bayangan.

Tidak sampai sepuluh menit, kopi pesananku datang menuju meja tempatku menunggu. Tapi terlihat pemandangan yang aneh, pelayan itu datang dengan membawa seorang jagoan kecil yang giginya terlihat lebar tersenyum padaku.

“Ini pesanannya nona Rosse.” Kata pelayan itu.

“Iya terimakasih. Maaf, kamu tahu dari mana nama saya?” tanyaku heran.

“Itu yang di sebelah sana lukisan anda, bukan?”
Aku tersipu malu, kukira tak ada yang mengenali wajahku-hanya lukisanku.

“Lalu, siapa yang kau bawa?” tanyaku lagi.

“Hallo kakak cantik, nama aku Daniel. Besok aku ulang tahun loh ka.. kakak mau engga buatin sketsa wajah aku?” katanya dengan suara manja dan senyumnya yang sangat menggemaskan.

“Ohya? Memang kamu ulang tahun yang keberapa?”

“Yang ke tujuh tahun.”

“Hmm.. tapi kalau kakak melukis sketsa itu harus dibayar. Kamu punya uang?” ledekku sambil melirik gesture tubuhnya.

“Aku punya!” Daniel mengeluarkan selembar mata uang dollar.

“Kamu dapat dari mana?”

Tiba-tiba pelayan itu membisikkan sesuatu dengan sepelan mungkin di arah telingaku. Air mataku berlinang seketika tapi aku harus menyembunyikan kesedihan ini. Aku mengerti apa yang harus kulakukan saat ini. Sehabis pelayan itu memberitahu semuanya, dia kembali menuju dapur dan meninggalkan jagoan kecil ini duduk di depanku.

Aku mengeluarkan sketchbook dan clutch juga penghapusnya. Kutatap wajahnya dalam-dalam, biar masuk ke dalam sanubari, biar kuresapi setiap titik pentingnya. Wajahnya sangat bahagia, namun aku dapat merasakan matanya sedang menahan rasa sakit-seperti yang kurasakan.

Jagoan kecil itu rupanya sudah mulai pegal dengan senyum lebar yang membuat gigi-giginya tampak berseri. Senyum yang semula tiga jari berubah menjadi dua jari. Sesekali aku mengajaknya berbincang. Aku tak peduli ekspresi wajahnya akan berubah karena aku telah hapal bagaimana ia tersenyum lucu.

“Kamu sekolah dimana?”

“Aku engga sekolah Kak, aku capek.”

“Loh kenapa? Kan enak banyak temannya.”

“Setiap aku jalan kaki pasti tiba-tiba tubuhku mematung, kaki aku kaya ada yang pegangin, jadi gabisa jalan. Kalau aku lagi asyik belajar tiba-tiba hidung aku berdarah, kepala aku pusing. Jadi kata Mommy aku gausah sekolah aja.” Jelasnya.

Aku terdiam sejenak, tanganku bergetar, kutaruh sebentar sketsaku yang hampir selesai itu, aku hanya tak ingin membuat kacau sketsanya. Sambil sesekali aku mengatur napas yang mulai terasa sesak.

“Memangnya kamu…” pertanyaanku terhenti, “… Ohiya, cita-cita kamu mau jadi apa?” Sambil meraih sketsaku lagi-mulai menyelesaikan.

“Hmm.. aku mau jadi pelukis kaya kakak Rosse. Aku juga suka menggambar loh kak. Gambar aku dipajang di samping sketsa kakak yang itu!” dia menunjuk salah satu sketsa seseorang dalam bayangan.

“Wah, gambar kamu bagus Daniel! Kamu berbakat. Nanti kamu bikin sketsa muka kakak ya.”

Jagoan kecil itu mengangguk dengan antusias.

Aku sudah menyelesaikan sketsaku. Aku perlihatkan padanya, dia menimbang-nimbang apakah mirip dengannya atau tidak. Lalu, dia berdiri dari tempat duduknya dan mencoba berlari ke arah pelayan yang tadi mengantarnya untuk menanyakan tentang kemiripan sketsa wajahnya. Tapi tiba-tiba.. dug! Dia terjatuh. Dengan segera aku berlari ke arahnya dan membangunkan dari jatuhnya, kakinya kaku. Dia tak menangis, hanya mengatakan, “Aku baik-baik saja Kak, ini sudah menjadi hal yang biasa untukku.”

Aku tersenyum haru padanya dan memeluk tubuhnya erat. Aku meneteskan sedikit air mataku di belakang punggungnya. Sambil berbisik, “Daniel kuat, Daniel harus kuat ya. Kan mau lukis wajah kakak.” Aku berdiri sambil menggendong Daniel dan berjalan ke pelayan itu. Daniel punya bangkunya sendiri di kedai kopi ini.

“Daniel, ini sketchbook punya kakak buat kamu aja ya. Kan di sini juga ada sketsa wajah kamu. Masih banyak kertas yang kosong di belakangnya, bisa kamu pakai buat melukis apapun yang kamu ingin. Kakak harus pergi sekarang, nanti pasti ke sini lagi.”

“Kak, aku mau tanya. Boleh?” dengan suaranya yang parau.

“Iya sayang, mau tanya apa?”

“Kakak kenapa harus pakai penutup kepala? Memang kepala kakak botak? Kaya kepalaku ya Kak?”

Sebelum menjawab aku mengehala napas terlebih dahulu. “Engga sayang, kepala kakak engga botak. Jadi begini, untuk wanita muslim memang diwajibkan untuk memakai kerudung dan menutup bagian tubuhnya kecuali telapak tangan dan muka. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu akan mengerti.”

“Kak, danke!

“Kembali kasih, see ya!”

Petang mulai menampakkan rupanya. Aku masih tak percaya tentang hari ini, tentang beberapa jam yang mebuatku lirih dalam hujan. Aku harap, aku bisa bertemu dengannya lagi, jika Tuhan mengizinkanku. Perjalanan pulang saat ini penuh dengan lamunan untuk masa depan, apa aku bisa bertahan sampai semua yang kurasa cukup telah tercapai? Aku mohon Tuhan.

Hidupku memang sedang tergesa-gesa, seakan aku tahu kapan Tuhan ingin aku kembali pada-Nya. Hidupku memang sedang tergesa-gesa, sampai aku tak kenal lelah, sampai sakit yang kurasakan selama ini seakan musnah begitu saja. Aku hanya tak ingin mengeluh pada manusia, atau aku hanya malu menangis pada bumi, sedangkan hujan selalu setia menjadi tirai kepalsuan senyum bahagiaku selama ini.

Ya Tuhan, imanku masih memudar, dosaku belum tertebus atau takkan pernah habis, tapi jika aku masih punya satu permohonan, aku ingin mengugurkan dosa-dosaku satu-persatu. Jika sakitku menjadi penawarnya, akan aku nikmati. Percayalah, aku tak apa. Satu permohonanku Tuhan, aku ingin semua orang yang aku kenal merasa bahagia atas keberadaanku, aku ingin berkah-Mu selalu hadir untuk mereka-untuk semua orang yang kukenal-untuk semua orang yang aku sayangi-untuk semua orang yang aku cintai.

***

Sepertiga malamku telah tiba. sedikit sudah kulupakan kesedihan kemarin. Aku mengambil air wudhu, kupercikan pada setiap tubuh. Kugelar sajadah yang paling bagus yang aku miliki, kupakai mukena yang menghangatkan tubuh. Allahuakbar.. takbir kuserukan dengan suara lembut sampai gemetar jantungku. Sujud yang selalu kunikmati, seakan-akan adalah sujudku untuk yang terakhir kalinya. Kuangkat ke dua tangan yang menghadap ke kiblat, aku menceritakan semua resah dalam dada, semua kegelisahan dalam penat. Setetes demi setetes air mata tumpah membasahi mukena putihku.

Pagi menyambutku dengan segala macam aktivitas. Aku berangkat kuliah dengan berjalan kaki dan menaiki transportasi umum. Tempat kuliahku tak jauh dari rumah, hanya setengah jam perjalanan. Ada tempat favorit pada perjalanan menuju kampus, jalan setapak. Jalan ini yang biasanya mempertemukanku pada seseorang.

“Hallo Rosse!” langkahku berhenti, dikejutkan oleh suara bass yang sangat kukenal.

“Waalaikumsalam, Ki.”

“Hehe.. Assalamualaikum. Kok engga bawa sketchbook? Apa ketinggalan?” tanyanya penasaran.

“Aku kasih ke anak kecil kemarin.”

“Kenapa dikasih?”

“Nanti aja ya aku ceritanya. Aku ada jam kuliah pagi. Kita ketemu di tempat biasa. Bye!” aku berlari kecil meninggalkan Rifki.

“Bye… malaikat tanpa sayap.”

Aku bukan mengambil jurusan pelukis atau seni lainnya. Aku mengambil Bahasa Jepang. Simple, banyak hal yang aku suka dari Negara itu. Aku mempunyai mimpi untuk singgah di negaranya, aku ingin belajar di sana.

Sore tiba, aku membuka bekal di bawah pohon rindang di taman kampus, sambil melihat keramaian yang ada di depan mata. Ketika semua orang berbincang-bincang atau mengerjakan tugas bersama-sama. Aku suka pemandangan ini. mungkin akan menjadi suatu hiburan untukku, meski aku sedang seorang diri bersama angin yang berhilir-mudik.

“Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam. Nah gitu dong pakai salam Ki. Ini mau?” aku menyodorkan bekalku yang sudah tak utuh. Rifki duduk di belakang pohon yang aku sandarkan. Kami berdua berbincang-bincang tanpa menatap satu sama lain. Ada pohon besar yang berdiri tegap di antara punggung kita. Aku menceritkan semua kejadian kemarin siang di kedai kopi. Ya, Rifki selalu menjadi pendengar yang baik untukku, si pujangga yang selalu mengacaukan pandangan mata.

“Rosse, aku mau bilang serius sama kamu.” seketika bumi mematung mendengar kalimatnya yang sedikit parau.

“Iya, bilang aja Ki.” Aku mencoba untuk tetap tenang,meski sepertinya aku mengerti arah pembicaraannya.

“Aku tahu kamu engga pernah mau kalau diajak pacaran Rosse. Aku mau ke rumah orang tua kamu untuk melamar, akan aku bawa orang tuaku juga. Maaf Rosse ini seperti dadakan dan maaf karena aku engga bisa merangkai kata kalau di dekat kamu. Sebentar lagi aku akan menyelesaikan tugas akhir S2-ku, aku juga sudah punya usaha sendiri yang selama ini sudah menjamin biaya kuliahku. Dan kamu, sebentar lagi menyelesaikan skripsi S1-mu. Rosse, will you marry me?” jelasnya panjang.

Aku tersenyum di balik pohon besar itu, aku terharu bahagia.

“Kamu tahu gak Mas Rifki? Aku selalu berdoa pada Tuhan agar kita dipertemukan untuk dijodohkan. Sekarang, hatiku lega mendengar ucapanmu. Bisa kau ulurkan tanganmu ke belakang? Aku ingin kau membaca sesuatu.” Kataku.

Ya Allah..
Kau tahu..
Hati ini terikat suka akan indahnya seorang insane cipataan-Mu
Tapi aku takut, cinta yang belum waktunya
Menjadi penghalangku mencium surga-Mu
Berikan aku kekuatan menjaga cinta ini sampai tiba waktunya
Andaikan Engkau pun mempertemukan dengannya kelak..
Berikan aku kekuatan melupakan sejenak
Bukan karena aku tak mencintainya
Justru karena aku sangat mencintainya..
-Doa Ali bin Abi Thalib saat jatuh cinta pada Fatimah Az Zahra

“Kau tahu Rosse? Doa ini sungguh indah dari segala kata-kata yang pernah kuciptakan dan kubaca. Terimakasih Rosse.”

“Ke kedai kopi yuk! Aku ingin memperkenalkanmu dengan jagoan kecil itu.”

Kami berjalan di jalan setapak, tak usah menaiki kendaraan umum karena kedai kopi itu tak jauh dari kampus. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami, hanya pandangan tentang masa depan yang menunggu kami menjemputnya.

Sesampainya di kedai kopi itu, aku disambut oleh pelayan yang masih ramah denganku. Tak banyak basa-basi aku langsung menanyakan tentang jagoan kecil yang kulihat kemarin, tapi aku tak mendapatkan jawaban, aku disuruh duduk terlebih dahulu dan menunggu pelayan yang kemarin mengantarkan jagoan kecil itu datang.

Hatiku cemas sambil menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Dari kejauhan kutatap ada seorang wanita yang berjalan menuju kedai kopi, dia membuka pintu dan langsung menatap ke arahku. Tubuhku spontan berdiri seakan memberi kode agar segera menjelaskan apa yang terjadi dengan Daniel.

“Duduklah dulu, ini sketchbook milikmu. Daniel telah menyelesaikan sketsa wajahmu seperti janjinya kemarin sore.”

“Lalu Daniel?”

“Daniel meninggal dunia tadi pagi, tepat pukul 5. Dia titip pesan padaku agar kau segera melihat sketsa wajahmu.”

Aku membuka lembaran demi lembaran kertas sketchbook dan menemukan beberapa bekas darah yang menempel di sana, mungkinkah itu milik Daniel? Aku menemukan sketsa seorang gadis yang memakai kerudung dan terdapat tulisan,

Ini sketsa wajah Kak Rosse. Terimakasih Kak Rosse sudah memberikan aku kado terindah selama hidupku. Kak, aku merasakan kelembutan dalam hati kakak, saat kakak memelukku erat. Kak, apa kita akan bertemu lagi? Aku ingin kak. Dadah Kak Rosse, aku mau bobo dulu.

Rifki hanya melihatku menangis, dia menghormatiku untuk tidak menyentuh tubuhku sama sekali. Tatapannya yang menguatkan aku. Gadis pelayan itu mendekat ke tubuhku lalu menjatuhkan kepalaku ke pundaknya sambil berbisik, “Nona Rosse harus kuat seperti yang nona katakana kepada Daniel. Sakit kanker otak yang diderita Daniel memang sudah takdir Tuhan. Doakan saja. Terimakasih karena Nona Rosse telah bersedia mengenal Daniel, adikku.”

Mungkin suatu saat aku yang akan menyusul Daniel.

Hari berganti, semua kembali memulih. Tapi ada satu yang semakin rapuh-tubuhku. Pertemuan antara kedua keluarga akan dilaksanakan malam ini. Aku harus kuat! Aku harus sehat! Ini salah satu mimpiku.

Aku memakai baju kebaya sederhana berwarna merah jambu yang dipadukan dengan biru tua. Mas Rifki memakai batik yang seragam dengan kedua orang tuanya juga adiknya. Wajahku berbinar sambil sesekali mengatur napas, aku tahu aku sedang tak sehat. Mas Rifki dan ayahnya membuka obrolan sebagaimana tradisi melamar.

“Bagaimana Nak Rosse bersedia dilamar oleh Rifki dan akan menjadi istrinya?” kata Ayah Mas Rifki.

Aku melirik ke arah Ayah dan Ibuku, mereka tersenyum seakan berkata jika kau merasa bahagia dengannya makan Ibu dan Ayah akan merestuimui. “Bismillahirahmanirrahim.. Iya saya bersedia dikhitbah dan disunting Mas Rifki.”

Semua orang yang hadir merasa bahagia saat jawaban keluar dari mulutku. Lalu, si gadis pelayan itu yang sengaja aku undang juga datang membawa sketsa yang sebenarnya di pajang di kedai kopi. Sketsa seseorang dalam bayangan. Pelayan itu memberikan padaku.

“Itu sebenarnya sketsa siapa?” tanya Mas Rifki.

“Kamu Mas.” Jawabku singkat.

“Tapi enggak mirip.”

“Coba kamu pakai kopiahmu, lalu rapikan rambutmu. Kemudian bercermin.”

Dia mengikuti apa yang aku pinta. Dia bercermin dan membanding-bandingkan sketsa itu dengan wajah aslinya. Lalu iya tersenyum malu, “Iya Rosse, mirip denganku. Kenapa kamu bisa menerkanya?”

“Karena kamu ada dalam hatiku, aku hanya bisa menerka sketsamu wajahmu dulu, tapi tidak bisa menerka hatimu.” Jawabku.

“Eh kamu sudah pandai merangkai kata.”

“Mas, aku selalu berdoa semoga kita dipersatukan oleh ikatan ijab Kabul. Tapi aku minta maaf padamu jika aku tak sanggup. Kamu tahu aku memiliki penyakit jantung bawaan sejak lahir, bukan? Kapan saja aku akan meninggalkanmu Mas. Aku takut.”

“Rosse, semua orang pasti akan meninggalkan dunia ini. sekalipun aku yang terlihat sehat tapi kita tidak bisa melawan takdir Tuhan. Tuhan punya rencana yang indah, percayalah. Kalau kita tidak dipertemukan di dunia, maka sebaiknya kita berdoa agar dipertemukan di akhirat nanti. Rosse, aku ingin kamu lah yang menjadi bidadari surgaku kelak.”

Masa depan bagai sketsa yang hanya dilukis oleh pensil bertinta abu. Seakan bayangan yang terus mengikuti kemanapun kamu berjalan. Teruslah bermimpi dan wujudkan satu-persatu, jemput takdirmu. Meski tangan tak sampai setidaknya kamu telah berusaha yang terbaik. Katakana perasaanmu walaupun hanya tersirat dari sketsa atau sebuah tulisan. Biarkan seni yang berbicara akan kesetiaan hatimu.


Dari para seniman, biarkan kami mati tapi bukan karya kami. Bukan hanya nama yang terukir dalam batu nisan, tapi kami ingin karya kami dikenang dan menjadi saksi bisu perjalanan hidup kami. Karena hanya dengan barisan kata dan goresan di kanvas kami bisa mengutarakan perasaan dan menceritakan kepada dunia. Kami takkan menangis dalam keluasan dunia, biarkan hanya hujan yang menjadi tirai akan sebuah kegalauan hati. Kami seniman, biarkan kami hidup dalam karya kami.

Minggu, 06 Maret 2016

Kelu dalam Hujan

Kalau kau bertanya,
'Kenapa hujan tak kunjung padam?'
Lalu aku menjawab,
'Aku ingin menemanimu wahai bidadari'

Hujan bercerita,

Aku datang menemanimu,
Menutup kebebasan mata yang melihat
Agar kau tak lemah
Agar kau dapat mengadu tanpa kelu

Jangan usir aku,
Aku akan pergi pada waktunya
Saat air matamu telah surut
Saat sedihmu telah hilang

Jangan pergi mencari pelangi
Aku tak ingin bahagiamu sekejap
Duduklah bersamaku, ceritakan padaku
Agar kau dapat mengadu tanpa kelu

Jangan pergi mencari matahari
Aku takut kau tak tahan akan teriknya
Tinggallah bersamaku, tatap aku
Agar kau dapat mengadu tanpa kelu

Jangan takut akan aku
Biarkan aku mendamaikan hatimu
Teduhku, rasakanlah
Rasakanlah..

Jangan takut akan aku
Jangan kelu dalam hujan
Bersedu sedanlah, teriakkan
Aku akan memelukmu
Menipu kebebasan mata yang melihat

Jangan kelu dalam hujan
Biarkan aku meneduhkan hatimu