Aku
tahu, hatiku berontak. Namun diriku masih tetap tenang dengan semua kejadian
tentang kamu. Kamu hadir memintaku untuk menjaga cakrawala, tapi aku hanya
sanggup menggenggam segaris warna yang paling terindah. Karena, aku hanya ingin
menjadi satu bagian kecil dari puzzle hatimu saja. Tak meminta lebih dari
apapun. Tentu saja dengan alasan yang sederhana. Kamu akan melengkapi puzzlemu
yang hanya tersisa satu bagian kecil. Jika tidak, maka puzzlemu takkan utuh dan
tak kan nyata. Aku hanya memiliki kehidupan yang sederhana, sesederhana kamu
mencintaiku. Luar biasa akan memilliki proses dengan kata biasa. Dan aku, akan
mencoba untuk terbiasa melupakanmu, seperti terbiasa untuk mencintaimu. Kata
hati tak sanggup untuk menyatu, jika kamu membisu. Dan merpati putih tak
terbang hanya dengan sebelah sayapnya. Aku pun begitu, akan pincang hanya denga
separuh hati. Namun bintangmu hanya satu dan tak dapat dibagi karna ia terlalu
kuat dan kokoh. Jaga selalu bintangmu agar tetap bersinar, seperti aku yang
selalu menjaga senjaku agar tetap mempesona.
Puisi adalah sebuah kejujuran tentang kata hati yang sulit untuk diucap oleh lisan. Karena banyak rasa yang sulit untuk diutarakan. Dan kamu adalah alasan mengapa bait-bait ini tercipta. Dan puisi tak akan menyakiti hati.
Senin, 15 Juli 2013
I Don't wanna miss anything
Satu lagi kisah yang berbeda
dari hidup ini
Kebersamaan,
Kebersamaan akan hadir jika ada
cinta kan?
Kebersamaan akan hadir jika
saling menghargai
Kebersamaan akan hadir jika ada
tawa kan?
Sebuah foto saja tak kan
sanggup melukiskan semuanya akan abadi
Kebersamaa pasti akan hilang
pada waktunya
Aku tak ingin menyia – nyiakan
hal ini
I don’t wanna miss anything
I don’t wanna miss anything
Dalam kebersamaan aku dapat
merasakan seribu macam perasaan yang berbeda
Sesuatu yang lain yang
membuatku akan terus mengenang kalian
Salah, aku salah
Aku tak akan mengenang kalian
Tapi aku akan merindukan kalian
Merindukan saat – saat ini
I don’t wanna miss anything
I don’t wanna miss anything
Kita ngga akan tau kan kapan
aku akan mati?
Kapan aku akan meninggalkan
kalian
Aku pernah bermimpi kalau
senjalah aku tiada
Kawan, aku tak tahu harus mengatakan
apa?
Kalau ada kata yang lebih dari
kata terimakasih itulah yang akan aku berikan
Kalau aku dapat terbang
Aku akan mengejak kalian
Kemanapun,
Menikmati senja saat adzan magrib
menghujani kita
Atau sampai menembus indahnya
cakrawala
Kawan, aku hidup bersama kalian
Aku nyata disamping kalian
Kawan, aku selalu mengharapkan
kehadiran kalian
Kapanpun, dimanapun
Karna setiap satu detik
nafafasku,
Tersebut nama kalian dihati, dijantung,
dan dinadiku
Kawan, biarkanlah kebersamaan
ini abadi untuk selamanya
I don’t wanna miss anything
I don’t wanna miss anything
Guratan Jingga
Ketika hati sepi dan tak
terobati. Aku dan gitar tuaku yang mengalun bebas dengan melodinya. Hari senja
tak kan hilang karnamu. Guratan jingga masih terasa ditempat ini. Waktuku tlah
habis, sayang. Aku tlah hilang dihempas badai yang menggema. Kata euforia pun
sudah kuhapus menjadi kerinduan. Malam biru yang masih tersisa disini. Dan aku
masih termangu menatap bayangmu. Aku pergi, aku tak kan kembali. sampaikan
salamku untuk hatimu. Aku menangis tersedu dibalik rembulan. Aku si pemuja
malammu. Hanya seorang pemuja malam. Tak perlu kau balas cintaku, sudah cukup
hanya sebatas ini. jika kamu hanya bertahan untukku. Jangan pedulikan aku. Aku
tak kan berpaling dari batas senjaku. Waktuku sudah habis. Katakan pada hatimu,
aku selalu menantinya datang untuk cintaku.
Cakrawala
Kau tak hadir hari ini
Seperti biasa hanya angin yang
menghalau bebas tanpa arti
Seperti biasa hanya angin yang
tak mengenal pohonnya
Aku disini
Penantian tak kan menjadi
sebuah arti kan?
Aku selalu bermimpi tentang ini
Aku selalu berusaha bahwa cinta
akan datang pada waktunya
Tak pernah, aku merasakan cinta
yang kuingin
Aku selalu berusaha menyukai
tulip
Tapi tanganku selalu menarik
mawar
Dan durinya senang menancap
dilenganku
Ini pilihan
Tetap, walau percikan darah
mengotori punggung kakiku
Aku hanya memiliki waktu
singkat
Sesingkat yang kau miliki
Aku terlalu berlebihan
mengartikan kebersamaan ini
Aku selalu berharap kau hadir
ditempat ini
Ketika hujan membasahi jalan
Dan aku selalu mengharapkan
cakrawala menimbun bumi tua
Namun tetap, aku hanyalah
manusia biasa
Yang tak sempurna
Aku bukan malaikat tanpa sayap
Aku juga tak dapat menyentuh
indahnya cakrawala
Merasakannya pun aku tak mampu
Hanya dapat melihat pesonanya
Kamis, 11 Juli 2013
Aku Tengah Menantimu
Kenyaman bukan hanya sekedar
gelak tawa
Keharuan bukan sekedar menangis
Kehidupan bukan sampai disini
Pagi menyapa bukan berarti
harus mengatakan selamat tinggal disenja kan?
Aku dipelataran masjid dipagi
buta
Ditemani seorang gadis yang
bermuram durja
Menanti sosok pangeran yang
entah dimana
Kata yang selalu dieluh –
eluhkannya
Membuat telingaku kaku
Kendaraan yang berlalu lalang
tak kan membutanya lupa akan sosok pangeran yang dinanti
Aku disini menunggu
Seseorang yang ada dibalik
tirai itu
Akankah dia membukanya untukku?
Mataku masih sayu akibat
hembusan angin yang mendorongku tajam
Aku masih menantimu
Siapakah kamu?
Siapa yang ada dibalik bayangan
itu?
Mungkin semua atau maya yang
kudapat
Aku berlamun disini
Mengharapkan kamu hadir
disampingku
Aku masih menantimu
Bersama angin yang menghalau
bebas diangkasa
Dan percikan air wudhu
senantiasa menemani dalam aku yang termangu
Senin, 01 April 2013
Cerita "Kamu"
Berawal dari sebuah
kata kamu, yang membawaku pada sebuah pemikiranku yang menerka – nerka semua
tentangmu. Entah mengapa, saat kamu menarik tanganku untuk berdansa denganmu
hati yang tenang menjadi berdesir bagaikan sebuah ombak laut yang dihantam oleh
kapal pesiar. Kita berdansa seperti RAJA dan RATU pada malam itu. Namun.. “ting
tong” alrm ku bersua. Seketika kamu pun melepas tanganku dengan lembut dan aku
yang sedang tertidur cantik dibawah sinar rembulan yang menerangi bunga tidurku
bangun dengan penuh tanda tanya. Apakah kita akan bertemu lagi? Apa hanya dalam
aroma bunga tidurku? Di dunia nyata, aku dan kamu tak pernah bertegur sapa.
Walaupun ada didepan mata, walaupun kita saling berhadapan. Terkadang, hanya
terlihat memerhatikan jarak jauh. Tapi, apa lah arti sebuah tatapan jarak jauh
itu? Aku tak ingin menerka – nerka dengan semua perasaanmu tentang hal ini. Aku
mungkin menyukaimu dari segala sisimu. Aku hanya dapat berdiam dikala kumbang –
kumbang itu menepi dikuncup bunga terindah dan mengibarkan sayapnya seakan
melambaikan tangan untuk menyapamu, anggun. Sebenarnya, aku tak mengerti dengan
semua tingkah lakumu terhadapku, layaknya orang yang sedang bermusuhan. Mungkin
itu caramu untuk mengenalku. Aku pun begitu, seperti terkunci bibir ini saat aku
berhadapan denganmu. TUHAN yang memberiku waktu agar aku dapat melihat dirimu.
Waktu yang selalu mempertemukan kita. Tapi waktu jualah yang memisahkan kita.
Sudahlah… mungkin aku terlalu angkuh mengatakan hal yang sejujurnya tentang
perasaanku padamu. Itu lah caraku, agar tak menyakiti hati saat aku melihat
kamu dengan… tak perlulah aku mengharapkan setangkai mawar yang tertutupi oleh
etalase. Karena itu cukup menguras saku
ku untuk membelinya. Aku hanya orang yang sederhana, sesederhana aku
menyukaimu. Tak perlu lah aku membeli mawar dengan bau pestisida yang dapat
membunuh aroma sedapnya. Cukup aku yang menanam benih dan merawatnya dengan
tangan halusku, selanjutnya aku yang akan memetik untuk ku simpan sampai akhir
hayatku.
Aku baru mengenalmu,
awalnya aku hanya menganggapmu sebagai angin yang menghalau bebas saja.
Terserah mau pergi ke selatan, timur, barat, atau utara sekalipun. Aku tetap
merasa acuh dan tak peduli. Sekalipun, kamu bagai mawar terindah yang selalu di
hampiri beribu kupu – kupu. Aku tetap tak peduli. Bukan.. bukan berarti aku
menganggapmu tak ada. Aku masih tetap pada gaya khas ku duduk santai dan “cuek”
dikursi taman itu. Sambil mendengarkan lagu kesukaanku dengan menggunakan
earphone favoritku, sampai tak menyadari bahwa kau memperhatikanku secara
detail dari sebrang sana. Aku memang tak dapat membaca fikiranmu apa lagi
mengartikan gerak – gerikmu, karena menurutku kamu adalah pria misterius yang
pernah aku temui. Mungkin melebihi “ZORO”. Aku mengerti kata – kata ku terlalu
berlebihan, tapi ini lah kenyataannya. Ini fakta, aku yang rasa. Terbesit
difikiranku, kamu yang menyentuh relung jiwaku yang hampa dan sepi. Tapi aku
tak ingin mengatakan kamu lah bagian puzzle ku yang hilang, untuk saat ini. aku
terlalu takut kamu seperti mereka. Kamu yang tersudut disana menatap dan
tersenyum padaku.
Kala malam berserakan
bintang – bintang, dibawah sinarnya aku menggariskan sebuah sketsa wajahmu yang
bersinar terang dalam hatiku, dalam fikiranku. Ketika musim semi tiba, daun –
daun yang berantakan di tepi jalan, aku menghapus jejakmu dengan langkahku.
Saat semi menghilang, dan hujan yang turun lebat kita berjalan berdua mencari
sisa deru derap langkah yang terhapus karna basah terkena air hujan. Badan yang
sudah kuyup pun tak terasa, jemari yang mulai keriting aku abaikan. Masih dapat
tertawa walaupun dingin menusuk tulang – tulang tubuhku. Kita mengarungi kuda –
kuda besar yang menghalau pada sebuah jalan yang menikung tajam. Dan masuk ke
dalam labirin panjang. Gelap! Tak ada cahaya meski 1 titik. Seakan, seberkas
cahaya muncul saat kamu membawakan bintang tadi malam yang ku buat sketsa
wajahmu. Kamu memegang erat tanganku seakan ingin menjagaku dengan penuh hati –
hati. Kamu pun berjalan sangat perlahan, menuntunku, selalu melihat kebelakang
untuk memastikan aku ada bersamamu. Padahal tangan yang tak kau lepas
tergenggam kencang, seakan terikat mati. Namun, aku masih takut tangan ini kau
lepas dan kau terbang dengan sayap cantikmu. Aku rasa kau tak seperti itu. Itu
hanyalah dunia hayalku saja. Buktinya, kamu masih tetap berjalan perlahan dan
mencengkram tanganku erat. Jika orang – orang diluar sana mengatakan rasaku itu
besar, tapi menurutku tidak. Rasaku ibarat hanya sebesar ujung jariku saja.
Kenapa? Coba bayangkan, jari kuku bila dipotong maka akan tumbuh kembali. Nah,
begitu juga denganku. Walaupun kamu suka menyebalkan dan membuatku membencimu,
tapi rasaku akan tumbuh kembali seperti ujung kuku itu. Saat aku memejamkan
mata, terasa kamu disampingku. Memegang erat kedua tanganku seakan takut
kehilanganku.
Minggu, 31 Maret 2013
Arti Cinta Dalam Kehidupan
Ketika matahari
menyorot kedua mataku
Seakan tepat
didepan wajahku
Kulit yang kering
menjadi saksi bisu
Hanya tersirat
fatamorgana disitu
Aku berjalan ke timur
Gelandangan bocah – bocah dihabisi
para warga
Orang tua renta dibiarkan
berserakan ditengah jalan
Sambil menyodorkan mangkuk
kecil seakan bertuliskan “Kasihanilah SAYA”
Musisi jalanan
berdendang dengan riang
Dari lampu merah,
lampu kuning, sampai lampu hijau
Tapi para pereman
merebut kantung receh
Seakan tak peduli
berapa banyak peluh yang mereka habiskan
Aku berjalan memutar waktu
Terdengar kegaduhan dari
sebrang sana
Bocah yang berdiri diteras
rumah itu
Tangan yang gemetar dan lutut
yang lemas
Lontaran kata –
kata kasar
Dari para orang
dewasa
Uh, aku pikir itu
bukan orang dewasa
Seakan hanya anak
kecil yang merebutkan mobil – mobilan
Aku berlari kearah selatan
Terbisik jeritan nakal dari
telingaku
Memutar badan kebelakang
Nampak digubuk pecutan
melayang kearah manusia tak berdaya
Darah merah
mengalir
Air mata berjatuhan
Mulut yang tak
henti tertutup
Ampun … Ampun …
Ampun
Aku berlari jauh kedepan
Dan menepi dilautan pencopet
Uang rakyat dihisap
Busung lapar merajalela
Jangan kan rumah
yang layak
Serbuk beras pun
tak ada
Jeritan bayi
meminta susu Ibunya
Dikasihlah iar
tajin
Apa artinya kehidupan?
Bila tak ada cinta
Bagai teluk yang habis air
Bagai semut yang masuk
kelubang dengan dunia maya
Coba tengok
sekeliling dunia ini!
Sekeliling negeri
ini! sekeliling kota ini!
Sekeliling kampong ini!
Pahamilah arti
cinta
Masih banyak mawar – mawar layu
Masih banyak mawar – mawar yang
hampir mati
Kita manusia bukan binatang
jalang
Masih banyak saudara kita
yang membutuhkan cinta
Langganan:
Postingan (Atom)