Minggu, 13 Oktober 2013

Remember You

Alun-alun kota ini sepi, tak ada kegaduhan, tak ada yang istimewa, tak ada sentakan gerbang kehidupan. Bahkan kicauan burung pun tak terdengar walau samar. Tubuh mengering menjadi debu setelah kematianmu tempo lalu. Ditengah air yang membasahi tubuhku saja, aku menepi, aku tenggelam dalam dunia yang menampakkan petang. Hatiku mencoretkan tinta dalam selembaran kertas putih bergaris ini. Aku sedang terjaga mencari cita-cita. Aku dalam keheningan diantara bising suara. Terllihat sayu ke depan, kalbu ini tetap tenang menyapa langit. Mata birumu yang biasanya hadir memperkuat signal kepercayaan. 

Tuhan begitu menyayangimu. Tuhan ingin kamu selalu disamping-Nya. Tuhan hanya tak ingin kamu terlalu banyak mendapat cambukkan dunia. Percayalah, I always there for remember you..

Berbeda

Perbedaan, satu kata yang mungkin dianggap biasa. Satu kata mungkin sulit untuk dilupakan. Aku dan dia berbeda, aku dan dia tak sama, aku dan dia bagai langit dan bumi. Aku lebih menyukai senja, di mana aku dapat memuaskan mata melihat matahari terbenam dan membiarkan bulan menggantinya. Dia lebih menyukai matahari terbit, di mana langit akan terus bercahaya dengan sempurna. Lalu kau? Lebih memilih apa? Sang fajar muncul atau pesona senja? 

Yaps, pilihanmu begitu tepat. Kau lebih memilih sang fajar yang terus tersenyum saat langit begitu sempurna bercahaya. Senja ini telah kehilangan pesonanya. Tidak... Ini bukan salahmu, tapi salah hatiku memilihmu. 

Semngatku akan selalu bersamamu. Maaf, aku hanya emosi...